30 C
Semarang
, 26 February 2024
spot_img

Waspada Sudah Ada 6 Kasus Pneumonia di Indonesia  

Jakarta, Jatengnews.id – Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI, Maxi Rein Rondonuwu mengonfirmasi adanya 6 kasus infeksi pneumonia mycoplasma pada anak di Indonesia.

Ia menyebutkan 6 kasus ini semuanya terdeteksi di Jakarta, dengan rincian semua kasus itu ditemukan di dua rumah sakit swasta yaitu RS Medistra Jakarta dan RS Ibu dan Anak JWCC. Meski begitu, kata Maxi pihaknya memastikan seluruh kasus itu sudah dinyatakan sembuh.

Baca juga : Awas Penyakit Pneumonia Mulai Ancam Warga Semarang

“Kami dua hari lalu mendapat laporan, setelah kami konfirmasi memang saat ini ada 6 kasus pneumoniae mycoplasma yang pernah dirawat di dua rumah sakit,” ujar Maxi dikutip dari Suara.com, Kamis (07/12/2023).

Maxi menjabarkan, 6 kasus itu semua pasien merupakan anak-anak dengan rentan usia 3 hingga 12 tahun. Pasien mengalami gejala batuk, hidung beringus, sakit kepala, hingga sesak ringan.

“Gejala awalnya sama seperti pneumoniae pada umumnya, panas dan batuk, beringus, sakit tenggorokan, ada yang mulai terasa sesak,” kata Maxi.

Pneumonia adalah kondisi inflamasi yang terjadi saat seseorang mengalami infeksi pada kantung-kantung udara dalam paru-paru. Kantung udara yang terinfeksi tersebut akan terisi oleh cairan maupun pus (dahak purulen). Gangguan ini dapat menyebabkan batuk berdahak atau bernanah, demam, menggigil, hingga kesulitan bernapas.

Infeksi yang ditimbulkan pneumonia bisa terjadi pada salah satu sisi paru-paru maupun keduanya. Penyebab utama dari gangguan inflamasi ini adalah infeksi virus, bakteri, ataupun jamur. Pneumonia lebih dikenal sebagai paru-paru basah di Indonesia. Penyakit ini bukan hanya dapat menimpa orang dewasa, melainkan juga terjadi pada anak-anak, bahkan bayi yang baru lahir.

Baca juga : RS Telogorejo Ajak Pentingnya Vaksinasi Pneumonia dan Kenali Tanda-Tanda Penyakitnya

Baik pneumonia virus dan bakteri adalah penyakit yang menular. Berarti, seseorang yang mengidapnya dapat menyebarkan ke orang lain melalui menghirup tetesan udara dari bersin atau batuk. Maka dari itu, pengidap gangguan ini perlu menghindari cairan keluar dari mulutnya dengan menggunakan masker. (03)

Berita Terkait

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Berita Pilihan