28 C
Semarang
, 25 May 2024
spot_img

Intensitas Gempa Bumi di Jawa Barat Tinggi, BMKG Minta Masyarakat Waspada

Jakarta, Jatengnews.id – Pasca gempa berkekuatan M6,2 yang mengguncang Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati melakukan audiensi bersama Pj Bupati Garut dan BPBD Kabupaten Garut, Minggu (28/4) malam.

Dwikorita mengungkapkan, wilayah Garut, Cianjur, Tasikmalaya, Pangandaran, dan Sukabumi memiliki sejarah kejadian gempabumi yang sering terulang sejak tahun 1844. Intensitasnya pun cukup tinggi, di mana dalam satu tahun bisa terjadi beberapa kali gempa di wilayah tersebut.

Baca juga : Gempa Garut 6.2, BMKG: Waspada Potensi Longsor dan Banjir Bandang Mengintai

“Jawa Barat memang rentan atau rawan mengalami gempabumi, sehingga kalau ditanya potensinya ke depan bagaimana, pasti akan terulang bahkan dalam beberapa kali periode setahun dan tahun berikutnya terjadi lagi,” kata Dwikorita.

Oleh karenanya, pentingnya adaptasi terhadap ancaman gempabumi bagi masyarakat khususnya di wilayah Jawa Barat. Alih-alih melakukan migrasi atau berpindah tempat, mitigasi seperti penyesuaian konstruksi bangunan menjadi kunci untuk menghadapi potensi gempabumi di masa mendatang.

Di sisi lain, kesadaran akan risiko bencana dan kesiapan dalam menghadapinya, serta menegaskan bahwa tindakan proaktif dan adaptasi yang tepat dapat membantu melindungi masyarakat dari dampak buruk gempa bumi.

Disaat bersamaan, Dwikorita menjelaskan berdasarkan data prakiraan cuaca, diprediksi akan terjadi hujan ringan hingga lebat di wilayah Jawa Barat. Potensi cuaca ekstrem yang diprediksi akan terjadi dalam rentang waktu tertentu tersebut memunculkan kekhawatiran akan potensi intensitas hujan yang dapat berdampak signifikan, terutama di wilayah pegunungan seperti Garut dan Cianjur.

Kekhawatiran tersebut disebabkan oleh kondisi lereng yang rapuh dan rentan terhadap pergerakan tanah akibat diisi oleh air hujan. Akibat gempa, pori-pori tanah yang longgar dapat menjadi persoalan.

Kepala BMKG juga menyoroti bahaya potensial dari longsor yang dapat terjadi di wilayah pegunungan. Timbunan longsor yang terbentuk dapat mengisi alur lembah sungai, menjadi bendungan alami yang menahan laju air hujan.

Namun, jika hujan terus-menerus, hal ini dapat menyebabkan bendungan tersebut roboh atau jebol, mengakibatkan terjadinya banjir dan berpotensi merusak pemukiman serta infrastruktur. Kondisi ini pernah terjadi di masa lalu, seperti di Garut dan Banten, sehingga perlunya kewaspadaan dan pengawasan yang lebih ketat terhadap kondisi tanah di wilayah-wilayah rawan longsor dan banjir.

Baca juga : BMKG Libatkan Generasi Muda Suarakan Penanganan Krisis Air dan Iklim

“Yang dikhawatirkan nanti saat masuk musim hujan berikutnya, itu mulai Oktober, November, Desember, dan puncaknya biasanya Desember atau Januari, ini seakan-akan tabungan untuk bencana di musim hujan berikutnya. Tadi sudah disampaikan akan dikoordinasikan, misalnya dengan PUPR, agar bisa melakukan pengecekan ke atas, ke hulu sungai agar dibersihkan,” pungkasnya. (03)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN