Beranda Pendidikan Dosen UIN Walisongo Paparkan Inovasi Teknologi Observasi Hilal di Forum Internasional AICIS+...

Dosen UIN Walisongo Paparkan Inovasi Teknologi Observasi Hilal di Forum Internasional AICIS+ 2025

Dosen UIN Walisongo, M. Ihtirozun Ni’am, hadir dalam AICIS+ 2025 dengan riset transformasi teknologi observasi hilal.

M. Ihtirozun Ni’am, Dosen Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang. (Foto : Dok UIN Walisongo Semarang)
M. Ihtirozun Ni’am, Dosen Ilmu Falak sekaligus Koordinator Bidang Observatorium UIN Walisongo mempresentasikan hasil risetnya di forum Annual International Conference on Islam, Science and Society (AICIS+). (Foto : Dok UIN Walisongo Semarang)

DEPOK, Jatengnews.id – Dosen Ilmu Falak sekaligus Koordinator Bidang Observatorium UIN Walisongo, M. Ihtirozun Ni’am, mempresentasikan hasil riset inovatifnya dalam Annual International Conference on Islam, Science and Society (AICIS+) 2025, konferensi internasional yang digelar oleh Kementerian Agama RI di Kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, pada Rabu (29/10/2025).

Dalam forum ilmiah bergengsi tersebut, Ni’am mengangkat tema transformasi teknologi observasi hilal melalui riset berjudul “Transformation of Lunar Crescent Observation Technology (From Close-Range Control Toward Tele-Remoting Control)”.

Baca juga : Rayakan 40 Tahun Hubungan Diplomatik, Dosen UIN Walisongo Ngajar Bahasa Indonesia di Irlandia

Ia menawarkan konsep pengendalian teleskop jarak jauh (tele-remoting) sebagai pengganti sistem konvensional yang selama ini masih mengandalkan kontrol langsung di lokasi (close-range control).
Ni’am—yang akrab disapa Izun—menyampaikan hasil penelitiannya dalam sesi Open Panel bersama Prof. Dr. H. Ilman Nafi’a (UIN Cirebon), Vandan Wiliyanti (UIN Lampung), dan Umi Mahmudah (UIN Pekalongan).

Ia menjelaskan bahwa sistem pengendalian jarak jauh akan memperluas cakupan dan meningkatkan efektivitas ru’yatul hilal (pengamatan bulan sabit).

“Selama ini kendala utama dalam ru’yatul hilal adalah tidak meratanya lokasi pengamatan. Banyak daerah dengan cuaca cerah justru tidak melaksanakan pengamatan, sementara lokasi yang rutin melaksanakan ru’yah sering kali tertutup mendung atau hujan,” jelasnya.

Izun mencontohkan kondisi saat penentuan awal Jumadil Akhir 1445 H, di mana titik-titik ru’yah didominasi wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dari 15 lokasi pengamatan di Indonesia, sebagian besar cuacanya tertutup awan. Padahal, wilayah Sumatera bagian Selatan dan Papua bagian Selatan justru memiliki langit cerah dan sangat potensial untuk observasi.

Kondisi serupa, lanjutnya, juga terjadi saat penentuan awal Muharram 1446 H. Dari 19 titik pengamatan, mayoritas berada di Jawa dan mengalami cuaca tidak bersahabat, sementara wilayah seperti Bali, Sulawesi Selatan, dan NTT yang cerah justru tidak melakukan pengamatan.

“Melalui sistem kontrol jarak jauh, teleskop bisa ditempatkan di lokasi-lokasi strategis yang jarang terjangkau pengamat. Instrumen tersebut bisa dikendalikan secara daring dari pusat observasi,” paparnya.

Ni’am menegaskan, pendekatan ini tidak hanya efisien secara teknis dan ekonomis, tetapi juga membuka peluang pemerataan titik ru’yatul hilal di seluruh Indonesia. Secara saintifik, pengamatan dapat dilakukan tanpa kehadiran langsung pengamat, sedangkan secara syar’i, cukup ada satu petugas untuk memverifikasi kondisi langit sesuai ketentuan agama.

“Dengan sistem tele-remoting, potensi keberhasilan ru’yatul hilal dapat meningkat signifikan. Selain itu, kemungkinan terjadinya perbedaan hasil observasi atau pergeseran tanggal juga dapat ditekan,” pungkasnya.

Baca juga : UIN Walisongo Gelar Istighosah Peringatan Maulid Nabi

Melalui riset ini, UIN Walisongo kembali menegaskan peran strategisnya sebagai pusat inovasi keilmuan Islam dan sains yang terus berkontribusi terhadap kemajuan teknologi falak di Indonesia dan dunia Islam. (03)

Exit mobile version