27 C
Semarang
, 2 Januari 2026
spot_img

Aksi Krisis Iklim di Semarang: Siswa hingga Tokoh Agama Mogok Sekolah

Aksi bertajuk Climate Strike ini menjadi bagian dari gerakan Global Climate Strike yang serentak dilakukan di berbagai negara.

SEMARANG, Jatengnews.id – Ratusan siswa dari tingkat TK hingga SMA bersama tokoh agama menggelar aksi krisis iklim di depan Patung Diponegoro, Kota Semarang, Jumat (14/11/2025).

Aksi bertajuk Climate Strike ini menjadi bagian dari gerakan Global Climate Strike yang serentak dilakukan di berbagai negara.

Massa aksi yang mengenakan baju serba putih itu mulai berkumpul sejak pukul 08.00 WIB setelah melakukan aksi jalan kaki dari Taman Indonesia Kaya menyusuri Jalan Pahlawan. Para siswa membawa berbagai poster kreatif bertema lingkungan, salah satunya bertuliskan, “Aku Army BTS, Hari Ini Jadi Army Bumi Tolak Sampah.”

Baca juga: Pelajar dan Tokoh Agama di Semarang Gelar Aksi Krisis Iklim, Serukan Transisi Energi Bersih

Koordinator Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima), Ellen Nugroho, mengatakan aksi ini diikuti siswa TK, SD, SMP, SMA serta mahasiswa yang dengan sadar melakukan school strike untuk mengampanyekan krisis iklim.

“Climate Strike ke-5 di Semarang merupakan bagian dari Global Climate Strike. Para pelajar ingin membangunkan kesadaran pemerintah dan masyarakat tentang gentingnya isu perubahan iklim dan perlunya tindakan nyata tahun ini,” jelasnya.

Dalam aksi tersebut, massa mengangkat isu mendesak terkait transisi dari energi fosil menuju energi bersih yang adil dan berkelanjutan.

“Transisi energi harus segera dilakukan. Suhu bumi sudah melewati ambang batas aman, sementara emisi karbon kita masih tinggi,” tegas Ellen.

Ia juga menekankan bahwa krisis iklim akan paling berdampak pada kelompok rentan seperti perempuan, penyandang disabilitas, hingga masyarakat pesisir dan petani.

Generasi Muda Menuntut Masa Depan yang Layak Huni

Menurut Ellen, aksi ini merupakan inisiatif para pelajar yang ingin menyuarakan hak mereka atas bumi yang sehat.

“Anak-anak muda inilah yang akan mewarisi bumi. Mereka ingin kebijakan hari ini mempertimbangkan masa depan mereka,” tambahnya.

Ia mengingatkan bahwa di Jawa Tengah, dampak krisis iklim semakin nyata seperti cuaca ekstrem, banjir, hujan lebat, kekeringan, hingga ancaman gagal panen.

Baca juga: Tegal Deklarasi Damai, Tolak Aksi Anarkis

Bhikkhu Ditrhisampanno Mahathera dari Vihara Budhajayanti Kassap, Pudak Payung, yang turut hadir dalam aksi tersebut menegaskan bahwa agama mengajarkan manusia menjaga alam.

“Banyak bencana terjadi akibat perilaku manusia seperti membuang sampah sembarangan atau penebangan pohon liar,” ujarnya.

Ia menilai krisis iklim bukan hanya fenomena alam, tetapi juga hasil dari kurangnya kesadaran manusia.

“Pendidikan lingkungan harus digalakkan sejak dini. Dalam ajaran Buddha, landasannya adalah ‘semoga semua makhluk berbahagia’, dan itu termasuk menjaga alam.” (01).

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN