31 C
Semarang
, 6 Maret 2026
spot_img

20 Tahun Pengakuan UNESCO, Pameran Keris Demak Sajikan Ragam Pusaka Bersejarah

Jelajahi Pameran Keris Demak yang memperingati 20 tahun pengakuan UNESCO. Temukan keindahan budaya Tosan Aji.

DEMAK, Jatengnews.id – Pameran Keris (Tosan Aji) yang digelar di halaman Pendopo Satya Bhakti Praja Kabupaten Demak pada 25–27 November 2025 mendapat apresiasi tinggi dari para peserta dan penggemar budaya dari berbagai daerah.

Gelaran ini menjadi istimewa karena sekaligus memperingati 20 tahun pengakuan keris sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO.

Baca juga : Jasirah Race: Gojek Dukung Wisata Sejarah Naik Kereta di Jawa Tengah

Salah satu peserta, Hartono Citranala dari Mojokerto, menyampaikan rasa bangganya dapat turut serta dalam pameran yang dinilainya sangat luar biasa. Ia menilai kegiatan tersebut mampu memperkenalkan budaya Tosan Aji secara lebih luas kepada masyarakat, terutama generasi muda.

“Semoga makin banyak teman-teman yang tertarik dan bisa melihat langsung ragam pusaka Tosan Aji. Dari situ mereka bisa memahami nilai filosofinya,” ujarnya.

Menurut Hartono, sebagian besar keris yang dipamerkan memang diperjualbelikan oleh para pengrajin dan kolektor yang hadir dari Lombok, Malang, Mojokerto, hingga Yogyakarta. Harga keris bervariasi, mulai dari Rp2 juta hingga Rp100 juta, bergantung pada usia, rancang bangun bilah, detail pamor, dan karakter pusakanya.

“Penentu harga itu biasanya dari rancang bangun bilahnya, usia keris, serta detail dan karakter pusakanya,” jelasnya.

Ia juga sempat memamerkan salah satu pusaka langka bernilai tinggi, Katga, pusaka tua dari era Kahuripan yang ditemukan di aliran Sungai Brantas Kertosono. Katga tersebut dibandrol sekitar Rp35 juta. Hartono menuturkan bahwa banyak pusaka ditemukan di sungai karena pada masa lampau sungai menjadi jalur pertempuran sekaligus lokasi pelarungan pusaka. Kini, pencarian pusaka bahkan dilakukan menggunakan metal detector hingga penyelaman dengan tabung oksigen.

Peserta lain, Saiful Hizam Ibrahim dari Lombok, turut membawa beragam koleksi pusaka mulai dari keris, pedang, hingga tombak. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp1 juta hingga Rp35 juta untuk pusaka berbalut perak penuh. “Yang paling mahal yang saya bawa ini Rp35 juta, full perak,” terangnya.

Saiful menambahkan bahwa keris dari Lombok memiliki perbedaan karakter dengan keris Jawa. Beberapa koleksinya merupakan keris Bugis yang didapatkan dari wilayah Sumbawa, Dompu, dan Bima, sementara keris khas Lombok biasanya menggunakan kes bali sebagai ciri utama. Sebagian besar koleksi tersebut ia peroleh dari masyarakat lokal. “Kita ada yang tukang nyarinya, kadang keliling ke desa-desa cari rumah yang mau menjual,” katanya.

Untuk memastikan keaslian pusaka, karakter besi menjadi indikator penting. Dari tekstur dan tampilannya, dapat dikenali apakah sebuah keris merupakan pusaka sepuh atau kemardikan (buatan baru). Saiful menyebut pameran seperti ini penting untuk mengubah pandangan masyarakat bahwa keris bukan sekadar benda mistis, melainkan karya seni dan teknologi masa lampau.

“Kita perkenalkan teknologi dan seni zaman dulu yang sebenarnya luar biasa. Harapannya pameran seperti ini bisa diadakan lagi tahun depan,” ujarnya.

Baca juga : Pemkab Karanganyar Canangkan Satu Keris Satu Rumah

Ia juga menegaskan bahwa nilai pusaka kerap dipengaruhi status sosial pemiliknya pada masa lalu. Pusaka dari kalangan bangsawan biasanya memiliki bentuk lebih megah dan detail lebih rumit. (03)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN