28 C
Semarang
, 18 Februari 2026
spot_img

Bank Indonesia Proyeksikan Ekonomi Jawa Tengah Tumbuh 4,9–5,7 Persen pada 2026

Dapatkan informasi tentang proyeksi pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah oleh Bank Indonesia Jateng untuk tahun 2026.

SEMARANG, Jatengnews.id – Perekonomian Jawa Tengah diperkirakan akan tumbuh semakin kuat pada 2026 mendatang. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan bakal terjadi pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang berada di kisaran 4,9 sampai 5,7 persen (year on year).

Hal tersebut disampaikan Pelaksana Harian (Plh) Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Nita Rachmenia, dalam sambutan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Jawa Tengah, Jumat (28/11/2025).

Baca juga : Jawa Tengah Raih Penghargaan TPID Berkinerja Terbaik 2025 di PTBI, BI Jateng Apresiasi Seluruh Pemangku Kepentingan

Nita mengaku optimis, pertumbuhan ekonomi Jateng akan terus menguat seiring penguatan sinergi kebijakan antara Bank Indonesia dengan pemerintah daerah serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

“Dengan berbekal sinergi yang solid, kami optimis ekonomi Jawa Tengah pada 2026 dapat tumbuh pada kisaran 4,9 sampai 5,7 persen year on year dengan inflasi yang tetap terjaga pada target 2,5 plus minus 1 persen,” ujarnya.

Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Jawa Tengah, Jumat (28/11/2025). (Foto : Dok Bank Indonesia)
Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Jawa Tengah, Jumat (28/11/2025). (Foto : Dok Bank Indonesia)

Nita menyebutkan, pada triwulan III 2025, ekonomi Jawa Tengah tercatat tumbuh 5,37% (year on year), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 5,28% serta melampaui pertumbuhan nasional sebesar 5,04%.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh investasi yang tumbuh 6,71% dan kinerja ekspor yang meningkat 11,31% (year on year).

“Terutama pada komoditas tekstil, produk tekstil (TPT) dan alas kaki yang menjaga surplus perdagangan Jawa Tengah,” jelasnya.

“Di sisi lapangan usaha, industri pengolahan sebagai kontributor terbesar dengan porsi 33,43% tercatat tumbuh 5,96% (year on year),” sambungnya.

BI juga berupaya memperkuat peran UMKM melalui berbagai pendampingan serta program peningkatan kapasitas produksi, dan akses pembiayaan. Bahkan hal tersebut telah menembus kancah internasional.

“Pada penyelenggaraan UMKM Gayeng tahun 2025 lalu tidak hanya berlangsung di Semarang tapi juga serentak di empat negara yaitu Singapura, Malaysia, Jepang dan Prancis,” tuturnya.

Program lain untuk UMKM juga telah dilaksanakan di daerah kabupaten/kota melalui kantor perwakilan BI di Solo, Purwokerto, dan tegal.

“Hal ini berguna untuk mengakselerasi kinerja UMKM dalam dalam mendukung kebijakan utama Bank Indonesia,” jelasnya.

Meski optimistis, Nita mengingatkan bahwa tahun 2026 masih menyimpan tantangan seperti geopolitik global, ketidakpastian pasar keuangan, dan perubahan iklim yang mempengaruhi produksi pangan. Namun demikian, modal pembangunan Jawa Tengah dinilai kuat, termasuk ketersediaan pangan, tenaga kerja kompetitif, sektor industri padat karya, serta wilayah pertumbuhan pariwisata.

“Penguatan sinergi kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah,” tegasnya.

Digitalisasi pembayaran kiranya juga menjadi salah satu jawaban untuk tantangan pada 2026. Saat ini, Jateng menempati peringkat ketiga nasional untuk jumlah pengguna QRIS dengan 8,09 juta pengguna dan peringkat keempat nasional dalam volume transaksi.

“Angkanya mencapai 986 juta transaksi senilai Rp 87,7 triliun,” sebutnya.

Sementara itu, stabilitas harga tetap terjaga berkat implementasi strategi pengendalian inflasi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan program Champion Cabai.

“Penguatan sinergi kebijakan moneter fiskal menjadi kunci dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Ditambah visi pembangunan Jawa Tengah 2025-2045 dalam RPJPD,” paparnya.

“Didukung oleh ketersediaan pangan, demografi, usia muda, tenaga kerja kompetitif, basis industri solid, dan pertumbuhan positif sektor pariwisata,” kiranya menjadi jawaban untuk tantangan perekonomian di tahun depan.

Tantangan Ekonomi Global

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menggarisbawahi bahwa, terdapat lima tantangan ekonomi global yang harus diantisipasi.

Pertama, lanjutnya kebijakan tarif Amerika Serikat menyebabkan perdagangan global menurun dan multilateralisme melemah, bergeser menuju bilateral dan regionalisme.

“Kedua, pertumbuhan ekonomi dunia melambat terutama Amerika Serikat dan Tiongkok. Sementara Uni Eropa, India, Indonesia cukup Baik. Penurunan inflasi lebih lambat mempersulit kebijakan moneter Bank Sentral,” papar Perry dalam sambutan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Jakarta.

Ketiga, tingginya utang negara maju dan suku bunga global, akibat defisit fiskal yang besar, menekan pembiayaan negara berkembang dan meningkatkan beban bunga.

“Keempat, tingginya kerentanan dan risiko sistem keuangan dunia, karena transaksi produk derivatif yang terlibat terutama hedge fund dengan mesin trading. Berdampak pada pelarian modal dan tekanan nilai tukar di emerging market,” sambungnya.

Menurutnya, kondisi ini berpotensi memicu pelarian modal dan tekanan nilai tukar di negara berkembang.

Tantangan kelima, yakni maraknya cryptocurrency dan stablecoin swasta tanpa regulasi yang jelas, dinilai meningkatkan urgensi penerbitan Central Bank Digital Currency (CBDC) sebagai instrumen pembayaran digital resmi yang memiliki jaminan negara.

“Kelima gejolak global tersebut berdampak negatif ke berbagai negara (termasuk Indonesia),” katanya.

Artinya, situasi ini mampu mempengaruhi stabilitas ekonomi nasional, terutama melalui tekanan nilai tukar, pembiayaan investasi, serta harga pangan dan energi.

“Alhamdulillah, kita bersyukur ekonomi nasional berdaya tahan. Stabilitas terjaga, pertumbuhan relatif tinggi. Kuncinya hanya satu: sinergi,” disampaikan dalam paparan tersebut.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan lebih baik, ditopang konsumsi dan investasi yang meningkat serta ekspor yang tetap kuat meskipun ekonomi global melambat.

Baca juga : Bank Indonesia Jawa Tengah Umumkan 15 Nominasi Award di PTBI 2025

“Dengan sinergi, insyaallah Indonesia akan tumbuh lebih tinggi dan berdaya tahan,” demikian ditegaskan dalam penutup sambutan tersebut. (ADV)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN