
DEMAK, Jatengnews.id — Pondok Pesantren Girikesumo, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, menegaskan komitmennya untuk memperkuat sistem perlindungan anak dan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, serta ramah bagi seluruh santri.
Komitmen tersebut disampaikan dalam gelaran Halaqah Pesantren Aman, Nyaman, dan Ramah Anak yang menghadirkan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, pada Jumat (12/12/2025).
Baca juga : KKN UIN Walisongo Gandeng Puskesmas Mranggen Gelar Pemeriksaan Gratis untuk 400 Remaja di SMK Ky Ageng Giri
Pihak pesantren menyambut serius imbauan pemerintah menyusul masih ditemukannya puluhan kasus kekerasan di lingkungan pendidikan berbasis pesantren dalam beberapa tahun terakhir. Bentuk kekerasan yang paling banyak terjadi adalah bullying dan tekanan mental, yang dinilai dapat menghambat tumbuh kembang serta kepercayaan diri santri.
“Kami berkomitmen menjadikan pesantren sebagai ruang aman bagi santri. Segala bentuk kekerasan tidak sesuai dengan nilai-nilai keilmuan dan akhlakul karimah yang diajarkan di Girikesumo,” demikian garis besar sikap yang disampaikan pengasuh, KH Munif Muhammad Zuhri, dalam forum halaqah tersebut.
Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin, yang hadir dalam acara itu turut mengingatkan bahwa kekerasan di pesantren tidak selalu berbentuk fisik. Ia menekankan bahwa tekanan mental justru menjadi bentuk kekerasan yang paling sering terjadi, dan sering tidak terdeteksi.
“Bentuk kekerasan itu tidak selalu fisik. Yang paling tinggi justru bullying dan tekanan mental. Ini menimbulkan ketidakpercayaan anak-anak didik kita untuk tumbuh dan menjadi pemimpin,” ujar Gus Yasin.
Pihak pesantren mengakui bahwa sebagian santri kerap enggan melapor ketika mengalami kekerasan karena merasa harus menjaga nama baik pesantren dan para kiai. Karena itu, Girikesumo berkomitmen memperkuat jalur komunikasi internal, pendampingan psikologis, hingga sistem pelaporan yang aman bagi para santri.
Dalam kesempatan yang sama, Taj Yasin juga menyoroti pentingnya mengawasi pola senioritas yang berlaku di pesantren. Menurutnya, penugasan santri senior sebagai pengurus harus tetap berada dalam koridor pendidikan, bukan menjadi tekanan bagi junior.
“Pemberian ta’zir (hukuman) harus bersifat mendidik,” tegasnya.
Baca juga : KKN UIN Walisongo Gelar Sosialisasi Menabung dan Lokakarya Celengan Kreatif di MI Ky Ageng Giri
Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Fatkhurronji, menambahkan bahwa pesantren tidak hanya harus aman secara fisik, tetapi juga harus menciptakan kenyamanan dalam proses pendidikan. Hal itu hanya bisa terwujud melalui jejaring yang kuat antara pengasuh, orang tua, santri, masyarakat, dan pemerintah. (03)