SEMARANG, Jatengnews.id – Di tengah tantangan relevansi pendidikan tinggi, Arif Hidayat, M.I.Kom, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM), membuktikan bahwa akademisi masa kini harus mampu bertransformasi menjadi mentor yang relevan bagi generasi Z.
Tak hanya sebagai pengajar, Arif mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih puluhan penghargaan nasional hingga internasional.
Salah satu capaian tertingginya adalah meraih medali perunggu Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-32 di Bali dan PIMNAS ke-34 di Medan. Selain itu, Arif juga dikenal sebagai Project Leader internasional dalam program pengabdian masyarakat lintas negara, termasuk di Malaysia pada 13–19 Desember 2025.
Baca juga: Dosen Muda USM Pimpin Relawan Internasional di Penang Malaysia
Filosofi 3B dan Rahasia Produktivitas
Berbeda dari dosen pada umumnya, Arif menerapkan filosofi 3B (Be Focused, Be Execute, Be Proud of Yourself) sebagai prinsip utama dalam berkarya.
“Prestasi itu muncul saat kita menekuni bidang yang kita cintai, bukan karena ikut-ikutan atau FOMO,” tegas Arif.
Dalam mengatur waktu, Arif memanfaatkan fitur 3 Pin WhatsApp sebagai pusat kendali tugas, masing-masing untuk kewajiban dosen, proyek luar, dan urusan personal. Ia juga menerapkan sistem skala prioritas Rendah–Menengah–Urgent agar setiap target dapat tereksekusi dengan terukur.
Riset Unik dan Dampak Nyata
Dedikasi Arif dalam dunia riset juga tidak diragukan. Ia pernah meraih penghargaan atas riset unik tentang eksistensi Manusia Kerdil di tengah dunia digital. Hingga kini, Arif telah mempublikasikan belasan artikel ilmiah serta menulis dua buku.
Arif juga memberikan pesan kuat kepada generasi muda dan rekan akademisi agar tidak terjebak dalam tuntutan media sosial.
Baca juga: Dosen Muda USM Pimpin Relawan Internasional di Penang Malaysia
“Tetap fokus pada apa yang ingin kita kembangkan. Kita yang mengendalikan platform digital, bukan sebaliknya,” ujarnya.
Menurut Arif, seluruh prestasi tersebut menjadi instrumen untuk memotivasi mahasiswa agar tidak menjadi “mahasiswa kupu-kupu” (kuliah–pulang) semata.
“Jika kita menuntut mahasiswa berprestasi, maka dosen harus memberi contoh nyata lebih dulu,” pungkasnya. (01).




