26 C
Semarang
, 6 Januari 2026
spot_img

MLKI Jateng Tegaskan Ritual Zikir di Candi Prambanan Bukan Kepercayaan Sapta Darma

Pria tersebut menilai ritual itu telah menimbulkan kegaduhan di masyarakat

SEMARANG, Jatengnews.id – Video ritual yang menampilkan sekelompok orang berpakaian muslim melakukan gerakan menyerupai zikir di kawasan Candi Prambanan Yogyakarta masih menuai perdebatan luas di media sosial.

Perbincangan publik semakin ramai setelah akun media sosial Tasik Ngaji mengunggah video analisis terkait peristiwa tersebut pada Minggu (4/12/2026). Dalam video itu, seorang pria menyebut bahwa ritual tersebut diduga dilakukan oleh kelompok penganut kepercayaan Kejawen atau Sapta Darma yang berasal dari Grobogan dan Semarang, Jawa Tengah.

Baca juga: Kemenag Jateng Ajak Masyarakat Bijak Sikapi Video Zikir di Candi Prambanan

Pria tersebut menilai ritual itu telah menimbulkan kegaduhan di masyarakat dan berpotensi dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk menyudutkan umat Islam.

“Meskipun berpakaian seperti muslim, gerakan ritual itu sangat nyeleneh dan tidak sesuai syariat Islam, seperti gerakan tangan yang seolah menarik sesuatu ke atas. Itu bukan ajaran Islam,” tegasnya dalam videonya.

Menanggapi viralnya video tersebut, Ketua Persatuan Warga Sapta Darma (Persada) Provinsi Jawa Tengah sekaligus Presidium MLKI (Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia), Ir. Rahmat Pureantoro, secara tegas membantah keterlibatan kelompok kepercayaan resmi dalam ritual tersebut.

“Kami menegaskan bahwa postingan tentang ibadah kaum tertentu dengan pakaian muslim di Candi Prambanan itu bukan berasal dari Kerokhanian Sapta Darma maupun aliran Kejawen mana pun,” ujar Rahmat dalam keterangan tertulis kepada Jatengnews.id, Senin (5/12/2025).

Ia menjelaskan, tata cara ibadah atau manembah dalam ajaran Sapta Darma memiliki aturan dan bentuk gerakan tersendiri yang berbeda jauh dari ritual dalam video viral tersebut.

Baca juga: Zikir Rombongan Semarang di Candi Prambanan Viral, Begini Kata Kemenag Jateng!

“Kami menyampaikan klarifikasi ini agar masyarakat tetap rukun dan tidak terjadi kesalahpahaman. Semoga seluruh alam bahagia. Rahayu, rahayu, rahayu,” pungkasnya.

Sementara itu, meskipun Tasik Ngaji mencoba meluruskan persepsi publik dengan menyebut pelaku ritual sebagai penganut Kejawen, organisasi resmi penganut kepercayaan menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan tindakan oknum mandiri dan tidak mewakili ajaran kepercayaan yang diakui secara resmi, termasuk Sapta Darma. (01).

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN