
SEMARANG, Jatengnews.id – Inflasi Jawa Tengah sepanjang 2025 tetap terkendali dan berada dalam sasaran nasional 2,5%±1%. Pada Desember 2025, inflasi Jawa Tengah tercatat 0,50% (mtm) dan 2,72% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,64% (mtm) dan 2,92% (yoy).
Plh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Andi Reina Sari Hufaid, menyebut tekanan inflasi Desember 2025 terutama berasal dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil 0,38% (mtm).
Baca juga : Pasca Nataru Tekanan Inflasi Jateng Menurun
“Kenaikan harga cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah menjadi pendorong utama, seiring lonjakan permintaan jelang Natal dan Tahun Baru serta gangguan produksi akibat cuaca ekstrem,” katanya.
Kontributor inflasi lainnya berasal dari kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan andil 0,08% (mtm), didorong lonjakan harga emas perhiasan yang mengikuti tren kenaikan harga emas dunia. Sepanjang 2025, emas konsisten menjadi penekan inflasi, dengan inflasi emas perhiasan mencapai 62,35% (yoy), jauh di atas capaian tahun sebelumnya.
Dari sisi transportasi, inflasi tercatat 0,02% (mtm) akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Turbo. Tekanan tersebut tertahan oleh penurunan tarif angkutan udara seiring diskon tiket penerbangan domestik kelas ekonomi selama libur akhir tahun.
Secara regional, inflasi tahunan tertinggi di Jawa Tengah terjadi di Kota Semarang sebesar 2,84% (yoy), disusul Kota Tegal (2,83%) dan Cilacap serta Surakarta masing-masing 2,79%. Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Rembang sebesar 2,47% (yoy).
Baca juga : Kemiskinan Jateng Turun, BPS : Ekonomi dan Inflasi Terjaga
“Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga pasokan, distribusi, dan stabilitas harga agar inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5%±1%,” imbuhnya. (03)