KUDUS, Jatengnews.id – Kawasan Pegunungan Muria yang meliputi wilayah Kabupaten Kudus, Jepara, dan Pati saat ini berada dalam kondisi rawan bencana. Hal tersebut dipicu oleh meningkatnya intensitas curah hujan yang tergolong tinggi hingga ekstrem dalam beberapa hari terakhir.
Pengamat Lingkungan Wilayah Kudus, Hendy Hendro, mengatakan bahwa kawasan Muria telah memasuki fase krusial puncak musim penghujan yang membutuhkan kewaspadaan ekstra dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah.
Baca juga : Banjir Rendam 1.500 Hektare Lahan Pertanian di Kudus
Berdasarkan peta sebaran curah hujan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode 9 Januari 2026 pukul 07.00 WIB hingga 12 Januari 2026 pukul 07.00 WIB, intensitas hujan tertinggi tercatat terjadi di wilayah Kudus bagian utara, khususnya Kecamatan Gebog dan Dawe.
“Di kawasan tersebut, curah hujan mencapai lebih dari 150 milimeter per hari, yang masuk kategori ekstrem atau sangat lebat,” ujar Hendy, Senin (12/1/2026).
Selain Kudus, kawasan Pegunungan Muria yang membentang di sebagian wilayah Jepara dan Pati juga mengalami curah hujan sangat lebat, dengan intensitas berkisar antara 100 hingga 150 milimeter per hari. Sementara wilayah lain di sekitar Muria tercatat mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
“Pola ini menunjukkan tekanan cuaca yang tidak merata, namun berbahaya karena terpusat di wilayah-wilayah rawan,” jelasnya.
Menurut Hendy, hujan dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi memiliki korelasi langsung dengan meningkatnya potensi banjir dan tanah longsor. Kondisi tersebut dinilai menjadi penyebab munculnya sejumlah kejadian bencana di wilayah Kudus, Jepara, dan Pati dalam beberapa hari terakhir.
“Musibah yang terjadi merupakan bencana hidrometeorologi murni, dan saat ini kita berada di fase paling rawan dalam siklus musim hujan,” tegasnya.
Ancaman cuaca ekstrem tersebut, lanjut Hendy, diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Berdasarkan peta prediksi probabilistik curah hujan BMKG untuk Dasarian ke-2 Januari 2026 periode 11 hingga 20 Januari 2026, sebagian besar wilayah Kabupaten Jepara dan Kudus masih berpeluang besar mengalami hujan dengan intensitas tinggi. Sementara Kabupaten Pati diprediksi berada pada kategori hujan sedang hingga tinggi.
Ia menjelaskan, dasarian merupakan pembagian waktu dalam satu bulan menjadi tiga periode sepuluh harian, yang digunakan untuk menganalisis dinamika cuaca dan iklim jangka pendek.
“Analisis dasarian sangat penting sebagai dasar pengambilan keputusan, baik untuk sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, hingga mitigasi bencana,” terangnya.
Dari hasil analisis tersebut, Hendy menegaskan bahwa kawasan Jepara–Kudus–Pati, khususnya wilayah Muria, kini benar-benar berada pada puncak musim penghujan. Ia mengimbau masyarakat di daerah perbukitan dan hulu sungai untuk mewaspadai potensi longsor serta banjir bandang, sementara warga di wilayah hilir diminta siaga terhadap kemungkinan banjir kiriman.
Baca juga : Pemprov Jateng Salurkan Bantuan Penanganan Banjir Kudus
“Tanpa kesiapsiagaan yang serius, dampak bencana hidrometeorologi bisa semakin meluas. Diperlukan sinergi pemerintah, relawan, dan masyarakat untuk meminimalkan risiko di tengah tekanan iklim yang semakin ekstrem,” pungkasnya. (03)
