28 C
Semarang
, 18 Januari 2026
spot_img

Wagub Jateng Dorong Rekayasa Cuaca di Kudus, Pati, dan Jepara

Langkah tersebut dinilai perlu mengingat intensitas hujan sangat tinggi dan berlangsung selama empat hari berturut-turut.

KUDUS, Jatengnews.id  – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mendorong dilakukannya rekayasa cuaca untuk menangani bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Kudus, Pati, dan Jepara. Langkah tersebut dinilai perlu mengingat intensitas hujan sangat tinggi dan berlangsung selama empat hari berturut-turut.

“Selama empat hari tidak ada matahari. Hasil koordinasi dengan BBWS memang perlu ada rekayasa cuaca,” kata Taj Yasin saat meninjau Posko Bencana Banjir di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Selasa (13/1/2026).

Baca juga: Wagub Taj Yasin Ajak Santri Dukung Swasembada Pangan

Selain rekayasa cuaca, Pemprov Jawa Tengah juga berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana untuk memetakan titik-titik yang membutuhkan bantuan pompa air. Namun, upaya tersebut masih terkendala melimpahnya debit air sungai.

“Pompa sudah kita siapkan, tetapi kondisi sungai juga masih penuh karena curah hujan tinggi,” ujarnya.

Posko pengungsian banjir yang berada di kompleks Sekolah Hidayatus Shibyan saat ini menampung 105 jiwa. Posko tersebut telah dilengkapi layanan kesehatan, dapur umum, serta fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK).

Dalam kunjungannya, Gus Yasin—sapaan akrab Taj Yasin—juga menemukan warga yang tetap bertahan di rumah meski terendam banjir karena mengalami stroke. Ia meminta tenaga kesehatan segera mengevakuasi warga tersebut ke fasilitas kesehatan.

“Saya minta segera dievakuasi agar mendapatkan perawatan yang lebih baik,” tegasnya.

Mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Taj Yasin menyalurkan bantuan dari Pemprov Jateng senilai Rp188 juta. Bantuan tersebut berupa makanan siap saji, lauk pauk siap saji, tenda keluarga, tenda gulung, kasur, dan selimut.

Kepala Dusun Karangmalang, Desa Temulus, Sumijan, mengatakan fasilitas di posko pengungsian sudah cukup memadai, terutama layanan kesehatan dan dapur umum. Namun, masih terdapat kebutuhan mendesak yang diperlukan warga.

“Kebutuhan utama sekarang sembako, selimut, serta popok bayi dan lansia. Untuk layanan kesehatan alhamdulillah sudah terpenuhi,” katanya.

Diketahui, hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Kudus sejak 9 Januari 2026. Banjir terjadi akibat luapan Sungai Dawe, Sungai Piji, dan Sungai Mrisen. Di Desa Golantepus, banjir diperparah dengan jebolnya tanggul, sedangkan banjir di Desa Kesambi dipicu meluapnya Sungai Piji yang tidak mampu menampung debit air dari hulu Gunung Muria.

Baca juga: Banjir–Longsor Meluas, Pemprov Jateng Belum Tetapkan Status Darurat Bencana

Selama kejadian banjir, tercatat 2.082 rumah terendam, 2.487 kepala keluarga atau 8.043 jiwa terdampak, dengan ketinggian air antara 5 hingga 55 sentimeter. Selain itu, sekitar 106,4 hektare lahan sawah turut terendam.

Dalam penanganannya, Pemerintah Kabupaten Kudus telah menetapkan status tanggap darurat bencana yang berlaku pada 12–19 Januari 2026. Posko Induk Penanggulangan Bencana di Kantor BPBD Kudus diaktifkan sebagai pusat komando koordinasi lintas sektor.

Upaya lain yang dilakukan meliputi penambalan tanggul jebol di Desa Golantepus menggunakan sandbag dan cerucuk bambu, serta pembersihan sampah dan eceng gondok di sejumlah sungai, khususnya di Sungai Piji, Desa Kesambi, guna mencegah luapan air ke permukiman dan jalan.(02)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN