Beranda Daerah BNPB Ajukan Perbaikan Rp110 Miliar untuk Tekan Risiko Banjir Demak

BNPB Ajukan Perbaikan Rp110 Miliar untuk Tekan Risiko Banjir Demak

Infrastruktur tersebut dinilai tidak lagi mampu menampung debit air saat curah hujan tinggi.

Kepala BNPB Suharyanto
Kepala BNPB Suharyanto meninjau lokasi banjir di Kabupaten Demak sekaligus membahas rencana perbaikan sipon sebagai solusi jangka panjang. (Foto: dok)

DEMAK, Jatengnews.id – Banjir yang berulang di Dukuh Kedung Banteng, Desa Wonorejo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengajukan perbaikan saluran air atau sipon di wilayah Kecamatan Gajah kepada Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Infrastruktur tersebut dinilai tidak lagi mampu menampung debit air saat curah hujan tinggi.

Berdasarkan data lapangan, genangan air terjadi akibat kombinasi curah hujan tinggi, kapasitas sipon yang terbatas, serta tersumbatnya aliran air oleh sampah dan sedimen.

Kondisi ini menyebabkan air meluap ke permukiman warga, akses jalan, hingga lahan pertanian di wilayah Kecamatan Karanganyar, Minggu (18/1/2026).

Baca juga: Pompa Air Pemprov Jateng Surutkan Banjir Rob Sayung Demak

Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, penanganan dilakukan melalui dua skema, yakni jangka pendek dan jangka panjang.

“Untuk jangka pendeknya kita lakukan pemompaan dan pengerahan alat berat untuk mengeruk sampah agar aliran air bisa kembali lancar,” ujarnya saat meninjau lokasi banjir di Demak.

Sementara untuk jangka panjang, BNPB akan melaporkan kondisi sipon tersebut kepada Kementerian PU agar dilakukan perbaikan infrastruktur dengan peningkatan kapasitas saluran.

“Segera akan kita laporkan ke Kementerian PU supaya sipon ini dibuat lebih besar, karena kapasitasnya sudah tidak memadai,” lanjut Suharyanto.

BNPB mencatat, perbaikan sipon di Kecamatan Gajah diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp110 miliar serta berpotensi berdampak pada kelancaran arus lalu lintas di jalur nasional Pantura. Oleh karena itu, penanganannya memerlukan koordinasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah hingga pusat.

Dari sisi data kejadian, Suharyanto mengungkapkan bahwa banjir Demak tahun 2026 tidak separah kejadian pada 2024 lalu yang disebabkan jebolnya tanggul Sungai Wulan di Norowito.

“Setelah dilakukan normalisasi, Sungai Wulan pada 2025 dan 2026 ini tidak lagi menyebabkan banjir besar seperti sebelumnya,” jelasnya.

Meski demikian, BNPB masih mencatat adanya genangan di sejumlah wilayah cekungan akibat keterbatasan kapasitas drainase. Dampaknya, akses jalan dan permukiman terdampak, serta lahan persawahan terendam dan berpotensi mengalami gagal panen jika kondisi ini berlarut.

Wakil Bupati Demak, Muhammad Badruddin, membenarkan bahwa fungsi sipon di Kecamatan Gajah menjadi salah satu faktor utama penyebab banjir di Karanganyar.

“Salah satu penyebab banjir di wilayah Karanganyar ini adalah fungsi sipon yang kurang optimal. Kami berharap ada perhatian ke depan agar banjir tidak terulang lagi,” ujar pria yang akrab disapa Gus Bad.

Baca juga: Satlantas Demak Bantu Para Pengendara Terjebak Banjir Rob Pantura Sayung

Selain penanganan infrastruktur, BNPB juga mengerahkan tiga armada pesawat untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jawa Tengah. Dua pesawat berasal dari BNPB dan satu dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

“Kami tidak menghentikan hujan, tapi mengurangi intensitasnya. Harapannya hujan tidak berlangsung lebat hingga ekstrem,” kata Suharyanto.

BNPB berharap, melalui pengendalian curah hujan dan perbaikan infrastruktur berbasis data, risiko banjir di Kabupaten Demak dapat ditekan serta dampaknya terhadap masyarakat dan sektor pertanian dapat diminimalkan. (01).

Exit mobile version