28 C
Semarang
, 23 Januari 2026
spot_img

Ketua DPRD Demak Apresiasi Muslimat NU, Khotmil Qur’an Dinilai Jaga Persatuan

Ketua DPRD Demak, Zayinul Fata, mengungkapkan pentingnya membaca Al-Qur’an secara berjamaah untuk membentuk karakter sosial.

DEMAK, Jatengnews.id – Tradisi membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an secara berjamaah dinilai tidak hanya memperkuat spiritualitas umat, tetapi juga berperan penting dalam membentuk karakter sosial masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Demak, Zayinul Fata, saat menghadiri pengajian selapanan dan khotmil Qur’an Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Bonang yang diikuti ribuan jamaah.

Baca juga : Ketua DPRD Demak Desak Pemkab Prioritaskan Mitigasi Banjir

Zayinul Fata menegaskan, Al-Qur’an harus diposisikan sebagai pedoman hidup yang tidak hanya dibaca, tetapi juga dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, pembacaan Al-Qur’an secara berjamaah memiliki nilai lebih karena mampu menanamkan sikap kebersamaan dan empati sosial.

“Al-Qur’an adalah sumber ketenangan batin sekaligus pedoman sikap dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika dibaca secara berjamaah, di situlah nilai kesabaran, empati, dan kebersamaan dilatih dan dikuatkan,” ujarnya, Rabu (21/1/2026).

Ia menambahkan, kebiasaan membaca Al-Qur’an bersama-sama mengajarkan umat untuk saling menghargai proses, menjaga kekompakan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut dinilai sangat penting dalam membangun keluarga yang rukun dan masyarakat yang harmonis.

“Dalam berjamaah, kita belajar menunggu, menyesuaikan diri, dan saling menguatkan. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi penting kehidupan sosial,” tuturnya.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu juga mengapresiasi peran strategis Muslimat NU yang selama ini konsisten menjaga tradisi keagamaan sekaligus menjadi penggerak keteduhan sosial di lingkungan masyarakat. Menurutnya, Muslimat NU memiliki kontribusi besar dalam pendidikan karakter di tingkat keluarga.

“Muslimat NU bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga pendidik karakter. Dari ibu-ibu Muslimat inilah lahir generasi yang beriman, berakhlak, dan memiliki empati sosial,” tegasnya.

Zayinul Fata menilai, kegiatan pengajian selapanan dan khotmil Qur’an memiliki nilai strategis dalam menjaga persatuan serta memperkuat solidaritas umat di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks. Ia berharap kegiatan keagamaan semacam ini terus dilestarikan dan diperluas manfaatnya.

“Ketika nilai-nilai Al-Qur’an hidup di tengah masyarakat, persatuan akan terjaga dan kehidupan sosial berjalan lebih sejuk,” katanya.

Sementara itu, Ketua PAC Muslimat NU Bonang, Marwiyah, menyampaikan bahwa kegiatan khotmil Qur’an merupakan bagian dari upaya Muslimat NU dalam membumikan ajaran Al-Qur’an serta memperkuat peran perempuan dalam kehidupan keagamaan dan sosial.

Diketahui, Kabupaten Demak dikenal sebagai salah satu daerah dengan jumlah penghafal Al-Qur’an (hafidz dan hafidzah) terbanyak di Jawa Tengah. Bahkan, Demak kerap disebut sebagai “Kota Santri” dengan tradisi tahfidz yang kuat, didukung oleh berbagai program insentif dan penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Demak.

Jaringan Penghafal Al-Qur’an (JMQH) Kabupaten Demak tercatat memiliki sekitar 1.500 anggota, dengan konsentrasi terbanyak di Kecamatan Bonang dan Wedung. Kondisi ini menunjukkan kuatnya komunitas penghafal Al-Qur’an, khususnya dari kalangan perempuan.

Baca juga : Ketua DPRD Demak Zayin Salurkan 500 Paket Sembako Korban Banjir

Tokoh ulama asal Lasem, Rembang, KH Abdul Qoyyum Mansur, bahkan pernah menyampaikan bahwa penghafal Al-Qur’an terbanyak di dunia berasal dari Indonesia, dan jumlah terbanyak se-Indonesia disebut berasal dari Kabupaten Demak. Pernyataan tersebut disampaikan saat beliau menjadi pembicara dalam Haflah Khotmil Qur’an di Pondok Pesantren Sullam, Desa Weding, Kecamatan Bonang, pada Juni 2024. (03)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN