Batang, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Inisiatif Terprogram (MIT) ke-21 Posko 03 UIN Walisongo Semarang gelar pendampingan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Babadan, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Kamis (22/01/2026).
Sebanyak 15 mahasiswa terlibat langsung dalam kegiatan binaan yang bertujuan mendorong UMKM lokal agar tumbuh, naik kelas, dan lebih berdaya saing melalui pemanfaatan digitalisasi usaha.
Program ini menitikberatkan pada penguatan pemasaran digital, penerapan sistem pembayaran non-tunai (QRIS), serta pendaftaran titik lokasi usaha melalui Google Maps.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu program unggulan KKN MIT-21 dalam mendukung pemberdayaan ekonomi desa.
Mahasiswa menyasar sembilan UMKM yang bergerak di sektor pangan dan olahan tradisional.
UMKM tersebut meliputi Emping Melinjo Hj. Sri, Pabrik Tahu Mbak Rio, Keripik Nangka Ibu Ririn, Lengko Sabilah, Jamu Tradisional, Sale Pisang, Pabrik Tahu Mak Sri, Tempe Murni, dan Keripik Tempe.
Tim KKN melakukan pendampingan melalui kunjungan langsung ke lokasi usaha.
Mahasiswa menerapkan metode observasi, wawancara, serta diskusi partisipatif bersama pelaku UMKM untuk menggali potensi dan kendala usaha.
Dari hasil pendampingan, mahasiswa menetapkan tiga UMKM unggulan, yakni Emping Melinjo Hj. Sri, Keripik Nangka Ibu Ririn, dan Pabrik Tahu Mbak Rio.
Ketiga UMKM tersebut menunjukkan kualitas produk yang baik, konsistensi produksi, serta peluang besar untuk dikembangkan melalui inovasi pengemasan dan pemasaran digital.
Koordinator Divisi Ekonomi Kreatif KKN MIT-21 Posko 03, Nanda, menjelaskan bahwa program binaan ini tidak hanya berfokus pada observasi.
“Mahasiswa terlibat langsung dalam proses produksi agar memahami tantangan teknis yang dihadapi pelaku UMKM,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendampingan ini bertujuan membantu UMKM lokal tumbuh lebih mandiri, meningkatkan kualitas produk, serta memanfaatkan teknologi digital agar pemasaran lebih luas dan berkelanjutan.
Program binaan ini mendapat respons positif dari para pelaku UMKM. Hj. Sri, pemilik Emping Melinjo, mengaku kehadiran mahasiswa sangat membantu dalam memahami promosi digital dan pengelolaan usaha.
“Program ini memberi semangat baru bagi kami untuk terus berkembang,” katanya.
Hal senada disampaikan Ibu Ririn, pemilik Keripik Nangka. Ia menyebut pendampingan KKN memberikan wawasan baru terkait branding, pengemasan produk, dan sistem pembayaran digital.
“Kami merasa usaha kami lebih siap bersaing di pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Hasil kunjungan menunjukkan bahwa sebagian besar UMKM Desa Babadan telah menghasilkan produk berkualitas dan memiliki pasar yang relatif stabil.
Namun, mahasiswa juga menemukan sejumlah kendala, seperti keterbatasan tenaga kerja, pengemasan sederhana, ketergantungan pada cuaca, pemasaran yang masih bersifat offline, serta belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital dan sistem pembayaran non-tunai.
Selain itu, beberapa UMKM menghadapi tantangan teknis lain, seperti pengelolaan limbah produksi yang belum maksimal.
Meski demikian, mahasiswa menilai UMKM Desa Babadan memiliki potensi besar untuk berkembang melalui inovasi produksi dan pemasaran digital.
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa KKN MIT-21 Posko 03 merencanakan pembinaan lanjutan berupa pelatihan pemasaran digital, penerapan QRIS dan Google Maps, edukasi keamanan pangan, serta pendampingan pembuatan video ulasan produk bagi UMKM unggulan.
Kegiatan binaan UMKM ini mendapat respons positif dari pelaku usaha.
Melalui kolaborasi berkelanjutan antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat, diharapkan UMKM Desa Babadan dapat berkembang lebih mandiri, kompetitif, serta mampu bersaing di pasar regional maupun nasional.






