28 C
Semarang
, 29 Januari 2026
spot_img

Akses Terputus Ombak Anak Sekolah di Tambaksari Demak Lewati Jalur Berbahaya

Warga Tambaksari Demak bertahan meski abrasi merusak akses jalan. Simak cerita Sokhib dan tantangannya sehari-hari.

DEMAK, Jatengnews.id – Puluhan warga Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, masih bertahan bermukim di kampung halaman mereka meski wilayah tersebut terus terdampak abrasi. Salah satu dampak paling terasa adalah rusaknya satu-satunya akses jalan penghubung menuju daratan akibat diterjang ombak pasang.

Kondisi ini dialami Sokhib, warga setempat, yang kini harus mengantar dan menjemput anaknya ke sekolah dengan berjalan kaki. Jalan beton sepanjang kurang lebih satu kilometer yang biasa dilalui kendaraan telah hancur dan dinilai membahayakan, terutama saat air laut pasang dan hujan turun.

Pantauan di lokasi, Sokhib tampak menggunakan tongkat kayu untuk memilah jalur aman di atas jalan berlumpur urukan proyek Tol Semarang–Demak. Ia berjalan sambil mengawasi putranya, Ahmad Bakri, siswa kelas 3 SD, yang melangkah lebih dulu.

“Cari yang tidak dalam, biar nggak njeblos,” ujar Sokhib sambil menuntun langkah anaknya, Kamis (29/1/2026).

Sesampainya di titik jalan yang rusak parah, Sokhib langsung menggendong sang anak. Ia mengaku khawatir jika anaknya berjalan sendiri melewati jalur tersebut.

“Jalannya rusak, khawatir, jadi tak gendong,” katanya.

Menurut Sokhib, kerusakan jalan sudah berlangsung sekitar satu bulan terakhir. Selama itu pula, para orang tua di Dukuh Tambaksari memilih berjalan kaki demi keselamatan anak-anak mereka saat berangkat dan pulang sekolah.

“Dulu diantar pakai sepeda motor bisa lewat sini, tapi sekarang sudah ndak bisa. Ini jalan darat satu-satunya, selain itu ya naik perahu. Tapi kan ndak semua punya perahu,” jelasnya.

Saat ini, Dukuh Tambaksari dihuni sekitar 13 kepala keluarga dengan delapan anak yang masih mengenyam pendidikan, mulai dari PAUD, TK, hingga SD. Kerusakan jalan tak jarang membuat anak-anak terpaksa absen sekolah, terutama saat cuaca buruk.

“Kalau pagi-pagi ombak pasang, mendung atau hujan, izin sama gurunya lewat HP bilang nggak sekolah hari ini. Alhamdulillah enggak pernah ada korban,” ungkap Sokhib.

Selain menghambat akses pendidikan, rusaknya jalan penghubung juga menyulitkan warga dalam beraktivitas dan mencari nafkah di daratan. Sokhib berharap pemerintah segera turun tangan memberikan solusi.

“Kalau pemerintah belum tanggap, ya warga sekuat tenaga melakukan perbaikan mandiri,” pungkasnya. (03)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN