SEMARANG, Jatengnews.id – Cuaca ekstrem yang melanda Kota Semarang pada 15–16 Januari 2026 lalu mengakibatkan satu kampung di Tambaksari, wilayah pesisir Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, terisolasi. Akses utama warga terputus setelah jembatan sementara di atas Sungai Beringin roboh.
Sekretaris RW setempat, Fahrur Rozi (52), menyebutkan sedikitnya 150 warga dari empat RT terdampak akibat putusnya jembatan tersebut. Kampung Tambaksari sendiri berada di ujung muara Sungai Beringin, sisi timur aliran sungai.
“Jembatan itu sebenarnya akses utama warga. Tapi statusnya memang jembatan sementara yang dibuat saat proyek normalisasi Sungai Beringin,” ujar Fahrur kepada Kamis (29/1/2026).
Ia menjelaskan, proyek normalisasi Sungai Beringin yang menelan anggaran ratusan miliar rupiah telah lama rampung. Namun hingga kini, warga Tambaksari belum memiliki akses jembatan permanen yang layak.
Menurut Fahrur, rencana pembangunan jembatan permanen sempat disiapkan, namun terkendala sengketa lahan. “Ada sengketa dari pemilik lahan. Waktu pembebasan tidak bisa dibeli oleh pemerintah, akhirnya jembatannya mangkrak seperti ini,” paparnya.
Ia menambahkan, sengketa tersebut kabarnya dipicu perbedaan harga. Pemilik lahan meminta harga tanah kering, sementara kondisi lahan yang dibutuhkan merupakan tanah basah.
Selama hampir tiga tahun terakhir, warga hanya mengandalkan jalur proyek sementara berupa beton di sisi pinggir dan papan kayu di bagian tengah. Karena konstruksinya tidak permanen, jembatan itu akhirnya roboh diterjang cuaca ekstrem pada Kamis (15/1/2026).
Sejak saat itu, warga terpaksa menyeberangi Sungai Beringin menggunakan rakit getek yang diikat dengan tambang, termasuk anak-anak yang hendak berangkat sekolah.
“Rencananya hari Minggu (1/2/2026) akan dibangun jembatan sementara dari bambu secara gotong royong, melibatkan warga wetan kali dan kulon kali,” ungkap Fahrur.
Ia menyebutkan, pemerintah kecamatan telah menjanjikan bantuan dana sekitar Rp10 juta untuk pembangunan jembatan sementara tersebut. Selama dua pekan jembatan terputus, warga mengaku baru sekali menerima bantuan dari pemerintah berupa paket sembako.
“Selama dua minggu ini, sepeda motor tidak bisa lewat. Kami parkir di sisi barat sungai. Bantuan sembako juga baru sekali,” katanya.
Di lokasi, Ngamuri (46) tampak sibuk menarik rakit getek yang digunakan warga untuk menyeberang sungai. Selama dua pekan terakhir, ia secara sukarela meluangkan waktunya membantu warga. “Begantian saja, siapa yang longgar ya narik getek,” ujar Ngamuri.
Ia menuturkan, waktu paling ramai terjadi pada pagi hari sekitar pukul 06.30 hingga 09.00 WIB, saat warga berangkat kerja dan anak-anak pergi ke sekolah.
“Anak-anak biasanya pulang sekolah jam 12 siang, itu juga ramai lagi,” katanya.
Akibat kondisi ini, harga bahan makanan dan kebutuhan pokok seperti gas elpiji ikut terdampak karena sulitnya akses distribusi.
“Tidak ada jalan lain. Setengah tujuh sampai jam sembilan itu paling ramai,” tambahnya.
Ngamuri juga mengingat, lokasi bentangan tambang rakit saat ini merupakan titik jembatan permanen lama sebelum proyek normalisasi Sungai Beringin dilakukan.
Kesulitan akses juga dirasakan para ibu rumah tangga. Sejumlah perempuan paruh baya tampak mengantre untuk menyeberang sambil mengeluhkan lambannya penanganan pemerintah.
“Sudah dua minggu begini, ke mana-mana bingung. Kalau arus deras atau hujan, tidak bisa dilewati,” keluh Sodiah (30).
Ia mengaku setiap hari harus berbelanja kebutuhan rumah tangga sekaligus mengantar anak ke sekolah. “Ini jalan utama kami. Harapannya bisa segera dibangun. Kalau hujan, getek tidak bisa dipakai,” tuturnya.
Sodiah juga mengaku khawatir setiap kali menaiki rakit, mengingat kondisi getek hanya terbuat dari gembes dan kayu. “Takut terpeleset atau jatuh ke sungai,” pungkasnya.(02)






