
Batang, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Inisiatif Terintegrasi (MIT) ke-21 Posko 15 UIN Walisongo Semarang menggelar pelatihan pembuatan sabun alami berbahan dasar buah lerak di Balai Desa Tembok, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Minggu (1/02/2026).
Kegiatan ini melibatkan ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai peserta utama dalam upaya mendorong pemanfaatan bahan alami yang ramah lingkungan.
Pelatihan tersebut dilatarbelakangi keprihatinan mahasiswa terhadap penggunaan sabun dan deterjen konvensional yang mengandung bahan kimia sintetis serta berpotensi mencemari lingkungan.
Melalui inovasi ini, mahasiswa KKN mengangkat kembali buah lerak sebagai bahan pembersih alami tradisional yang diolah dengan metode sederhana, modern, dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Buah lerak dinilai aman bagi kulit sekaligus ramah terhadap lingkungan perairan.
Selain itu, pemanfaatannya juga sejalan dengan aktivitas ibu-ibu KWT yang berada di bawah naungan PKK dan aktif di sektor pertanian, sehingga berpotensi menjadi produk olahan berbasis sumber daya lokal yang bernilai tambah.
Tidak hanya berorientasi pada aspek lingkungan, sabun lerak juga diproyeksikan sebagai peluang usaha rumahan.
Dengan biaya produksi yang relatif rendah dan bahan baku yang mudah diperoleh, produk ini dinilai mampu meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus mendukung kemandirian ekonomi organisasi.
Perwakilan mahasiswa KKN Posko 15 menyampaikan harapan agar sabun lerak dapat menjadi produk unggulan KWT Desa Tembok yang berkelanjutan.
Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa KKN memperkenalkan metode produksi melalui teknik ekstraksi cepat atau metode rebus.
Peserta diajarkan mencampurkan 10–15 buah lerak kering ke dalam satu liter air, kemudian merebusnya selama 15–20 menit hingga air berubah warna menjadi cokelat kekuningan.
Setelah dingin, buah lerak diremas secara manual untuk menghasilkan busa maksimal, lalu disaring hingga cairan siap digunakan sebagai sabun alami.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN MIT-21 UIN Walisongo berharap masyarakat Desa Tembok dapat mulai beralih dari deterjen konvensional ke produk pembersih alami.
Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah kimia dan mikroplastik, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif dalam menjaga ekosistem secara berkelanjutan.