DEMAK, Jatengnews.id – Kabupaten Demak diproyeksikan menjadi titik awal pembangunan Giant Seawall atau tanggul laut raksasa sebagai upaya jangka panjang mengatasi abrasi dan banjir rob di wilayah pesisir Pantai Utara Jawa.
Hal tersebut disampaikan Bupati Demak, Eisti’anah, saat menjelaskan arah kebijakan penataan pesisir yang tengah dikawal pemerintah pusat dan provinsi.
Bupati Demak Eisti’anah menyebutkan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan penataan pesisir dimulai dari Demak, dengan tahapan awal berupa pembangunan hybrid seawall pada tahun 2026. Hybrid seawall merupakan inovasi tanggul laut yang memadukan struktur keras seperti beton ringan dan alat pemecah ombak dengan pendekatan alami melalui restorasi mangrove.
“Seperti yang disampaikan Pak Wakil Gubernur, penataan pesisir dimulai di Demak terlebih dahulu. Untuk 2026, hybrid seawall sudah dianggarkan oleh provinsi dan ditempatkan di Demak,” ujar Eisti’anah, Selasa (10/2/2026).
Ia menjelaskan, sementara untuk Giant Seawall, saat ini masih dalam tahap pengumpulan dan pematangan data oleh badan otorita dari pemerintah pusat. Dengan proses tersebut, realisasi pembangunan tanggul laut raksasa diperkirakan baru bisa dimulai pada tahun 2027.
“Tahun 2026 ini datanya sedang disiapkan. Kemungkinan realisasi giant seawall di 2027. Tapi hybrid seawall sudah ada anggarannya,” jelasnya.
Untuk tahap awal, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp10 miliar pada 2026. Lokasi percontohan hybrid seawall direncanakan berada di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, dengan pemasangan Alat Pemecah Ombak (APO) berbahan beton sebagai penahan gelombang yang nantinya menjadi bagian dari sistem pendukung Giant Seawall.
“Nantinya sistem pemecah ombak ini akan menjadi penahan awal sebelum giant seawall. Semua sudah memiliki alur dan DED (Detail Engineering Design), tinggal percepatan koordinasi karena masyarakat pesisir sangat membutuhkan,” kata Eisti’anah.
Menurutnya, sebesar apa pun anggaran APBD yang dialokasikan untuk perbaikan infrastruktur di wilayah pesisir, tanpa Giant Seawall persoalan rob akan terus berulang. Jalan dan tambak yang telah diperbaiki berpotensi kembali tergenang air laut.
“Tumpuan lumpur di bawah tambak sekarang sudah terjadi. Kalau memang bisa diangkat dan dibantu, nanti kami minta PU untuk survei,” tambahnya.
Selain penanganan pesisir, Pemkab Demak juga tetap memfokuskan anggaran pada penanganan bencana melalui Belanja Tidak Terduga (BTT), penataan drainase perkotaan, serta sektor pendidikan dan kesehatan. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan penurunan Transfer ke Daerah (TKD) yang berdampak pada APBD.
Bupati menegaskan, penanganan banjir dan rob tetap menjadi prioritas utama, terutama di wilayah pesisir seperti Sayung. Ia juga mengungkapkan bahwa hasil Musrenbang Provinsi menegaskan komitmen Wakil Gubernur Jawa Tengah yang mengawal langsung agar Giant Seawall dimulai dari Demak.
“Dari badan otorita pusat juga sudah ke Demak, memastikan bahwa titik awal Giant Seawall memang di Kabupaten Demak. Baru nanti dilanjutkan ke Jepara, Kendal, Pemalang, dan wilayah lainnya,” pungkas Eisti’anah. (03)








