KARANGANYAR, Jatengnews.id – Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, menegaskan pentingnya peran media lokal dalam mendukung pembangunan daerah sekaligus menyalurkan aspirasi masyarakat. Di tengah perubahan lanskap informasi yang kian cepat, ia mengajak insan pers untuk terus berinovasi dan beradaptasi.
Hal itu disampaikan Sumanto saat membuka Focus Group Discussion (FGD) bertema *“Peluang dan Tantangan Media di Era Disrupsi”* di Omah Ingkung, Kabupaten Karanganyar, Selasa (10/2/2026).
Menurutnya, media memiliki fungsi vital sebagai penyampai informasi yang mencerahkan publik. Ia pun mengutip pernyataan Presiden pertama RI, Soekarno, yang menyebut pers sebagai salah satu sumber penerang kehidupan.
“Hanya ada dua hal yang bisa membuat sesuatu terang di kolong langit ini, di bumi ini. Pertama ialah matahari di langit, kedua ialah pers di dunia,” kutip Sumanto.
Ucapan tersebut pernah disampaikan Bung Karno saat membuka jurusan Publisistik Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia pada 12 Desember 1959, yang juga mengutip pandangan penulis Amerika Mark Twain.

Sumanto menilai, di tengah derasnya arus informasi, media dituntut menyajikan berita yang utuh, akurat, dan berimbang. Ia mengingatkan pentingnya menjaga independensi dan integritas jurnalistik agar masyarakat tidak terjebak pada informasi yang menyesatkan.
“Sekarang ini semua orang seolah bisa menjadi wartawan. Karena itu, pers profesional harus hadir sebagai penjaga gerbang informasi dengan mengedepankan verifikasi dan kode etik,” tegas politisi PDI Perjuangan tersebut.
Ia juga menyoroti maraknya hoaks di media sosial yang kerap memicu keresahan publik. Dalam situasi ini, menurutnya, media arus utama memiliki tanggung jawab lebih besar untuk memastikan informasi yang beredar telah melalui proses pengecekan yang ketat.
FGD tersebut dihadiri jurnalis dari Karanganyar, Sragen, dan Surakarta. Sejumlah narasumber turut berbagi pandangan, di antaranya Avrilia Wahyuana dari Solopos FM, kontributor iNews Bramantyo, serta Agra dari RRI Surakarta.
Avrilia Wahyuana menjelaskan, disrupsi digital telah mengubah perilaku audiens. Pola konsumsi informasi kini bergeser dari terjadwal menjadi *on demand*, dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Selain itu, kehadiran kecerdasan buatan (AI) turut memengaruhi proses produksi konten media.
“Tantangan terbesar media saat ini bukan sekadar memproduksi konten, melainkan bagaimana merebut perhatian di tengah banjir informasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, agar tetap bertahan, media perlu menerapkan model bisnis hibrida dengan memanfaatkan berbagai sumber pendapatan. Mulai dari langganan digital, konten berbayar, penyelenggaraan event, pengolahan data audiens, hingga kerja sama promosi produk.
“Bisnis media sekarang bukan lagi soal siapa paling cepat, tetapi siapa yang paling dipercaya dan mampu membangun kedekatan dengan audiens,” tandasnya. (ADV)








