SEMARANG, Jatengnews.id – Menjelang Tahun Baru Imlek, bengkel kerja Candra Wiro Utomo atau yang dikenal sebagai Oeie Wie Hong di Semarang tampak dipenuhi aktivitas.
Deretan kepala barongsai berwarna merah, kuning emas, hingga hijau terang tersusun rapi. Sebagian masih menunggu sentuhan akhir lukisan khas buatannya.
Namun, berbeda dengan euforia yang biasa menyertai Imlek, Candra menyebut kondisi usahanya tahun ini cenderung stagnan.
“Imlek tahun ini masih sama dengan tahun kemarin. Enggak kurang, enggak lebih,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
Hingga mendekati perayaan, ia mencatat sekitar 70 unit pesanan, terdiri dari kepala barongsai dan 12 unit naga. Meski jumlahnya terbilang besar, tidak ada lonjakan signifikan dibanding tahun sebelumnya.
“Kalau mendekati Imlek ini kurang lebih sekitar 70 unit, naganya sekitar 12,” katanya.
Biasanya, pesanan untuk Imlek sudah masuk tiga hingga empat bulan sebelum hari H. Namun tahun ini berbeda. Order baru ramai dua bulan sebelum perayaan, sehingga tim produksi harus bekerja ekstra.
“Biasanya 3–4 bulan sebelum Imlek sudah pesan. Tahun ini H-2 bulan baru ramai, jadi kita sedikit kewalahan,” tuturnya.
Soal omzet, Candra kembali menegaskan tidak ada peningkatan. Harga pun relatif stabil, yakni Rp6.500.000 untuk satu set barongsai dan Rp10.000.000 per unit naga.
Karya Candra tidak hanya dipasarkan di Jawa Tengah, tetapi juga dikirim ke berbagai daerah seperti Balikpapan, Singkawang, Ketapang, Sumatera, Sulawesi, hingga Papua. Tahun ini, pengiriman terjauh mencapai Luwu, Sulawesi.
Namun tingginya permintaan dihadapkan pada kendala serius, yakni kelangkaan bahan baku impor. Bulu barongsai berbahan bulu domba dan kelinci masih bergantung pada pasokan dari China, yang saat ini mengalami hambatan masuk ke Indonesia.
“Kendala bukan di cuaca, tapi di bahan baku. Karena impor dari China, sekarang masih ada halangan belum bisa turun,” jelasnya.
Akibatnya, ia terpaksa menolak sekitar 15 pesanan barongsai. Sebagian pelanggan memilih menunggu hingga stok tersedia, sementara lainnya membatalkan pesanan. Bahan baku diperkirakan baru tiba pada akhir Februari, setelah perayaan Imlek.
Dalam proses produksi, satu unit barongsai membutuhkan waktu lima hingga tujuh hari jika dikerjakan satuan. Namun dalam sistem produksi massal, waktu pengerjaan bisa lebih efisien.
Usaha yang diwarisi dari sang ayah ini telah digeluti Candra sejak 2016. Ia mengandalkan kekuatan pada desain dan lukisan. Jenis yang paling diminati saat ini adalah tipe Hoksan, disusul Low Kuchi yang mulai populer.
Keunggulan lainnya adalah layanan custom, di mana pelanggan dapat menentukan kombinasi warna, motif, hingga jenis bulu sesuai keinginan—sesuatu yang tidak tersedia pada produk impor jadi.
“Keunggulan kami karena bisa melayani request,” ujarnya.
Meski omzet belum meningkat, pesanan pasca-Imlek mulai berdatangan. Setidaknya 10 unit barongsai telah masuk daftar produksi berikutnya.
Bagi Candra, Imlek bukan sekadar momentum penjualan, melainkan perayaan keberlanjutan tradisi. Di tengah keterbatasan bahan baku dan pasar yang stagnan, semangat di balik setiap kepala barongsai tetap menyala menyambut tahun baru dengan warna dan harapan.(02)











