
DEMAK, Jatengnews.id – Di tengah gempuran bengkel modern dan sepeda bermesin canggih, Purnadi, warga Desa Bumiharjo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, tetap setia menekuni profesi sebagai tukang servis sepeda angin. Meski usianya hampir menginjak 59 tahun, semangatnya merawat dan memperbaiki sepeda tak pernah surut.
Di bengkel sederhana miliknya, Purnadi setiap hari disibukkan dengan tumpukan sepeda yang antre untuk diservis maupun sekadar penggantian suku cadang. Beragam jenis sepeda ia tangani, mulai dari sepeda mini, MTB, BMX, hingga sepeda tua atau onthel klasik peninggalan masa lampau.
“Setiap hari bisa menyelesaikan sekitar 10 sampai 15 sepeda. Biasanya menjelang magrib sepeda yang ada sudah diambil pemiliknya, tapi justru saat itu banyak lagi yang datang untuk diperbaiki,” ujar Purnadi, Kamis (12/2/2026).
Pria yang menekuni dunia servis sepeda sejak lulus SMP ini dikenal sebagai spesialis reparasi sepeda tua. Keahliannya terfokus pada sepeda onthel klasik yang dulu menjadi tunggangan rakyat hingga militer, dengan merek-merek legendaris seperti Raleigh, Hercules, Simplex, Batavus, dan sejumlah produk lawas asal Inggris serta Belanda.
Tak sedikit kolektor sepeda klasik yang mempercayakan sepeda mereka kepada Purnadi, khususnya sepeda dengan fitur operan gigi tromol atau verseneling yang memiliki suara khas “cik-cik” saat dikayuh. Jika mengalami gangguan atau kerusakan, tangan Purnadi menjadi rujukan utama.
Kehandalan Purnadi diakui Ketua Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) Kabupaten Demak, Sully Efendy. Ia menyebut bengkel Purnadi menjadi langganan para anggota komunitas onthel tua di Demak, bahkan dari luar daerah.
“Selain dari komunitas onthel tua di wilayah sini, pelanggannya juga banyak dari luar. Banyak klub di lingkungan KOSTI Demak yang servis dan perbaikan di sini. Pak Purnadi juga onthelis, jadi sekaligus menjadi tim mekanik sepeda klasik di komunitas,” kata Sully Efendy.
Di bengkel Purnadi tampak beragam sepeda klasik dan modern berjajar di teras rumah, bahkan hingga teras tetangga, menunggu giliran disentuh tangan terampilnya. Meski bekerja seorang diri tanpa asisten tetap, Purnadi tetap mampu melayani pelanggannya.
Sesekali ia memanggil bantuan tenaga servis tambahan jika pekerjaan sedang menumpuk.
Dengan ketekunan dan keahliannya, Purnadi bukan hanya sekadar tukang servis sepeda, tetapi juga penjaga warisan sepeda klasik yang masih hidup dan terus menggelinding di Kabupaten Demak. (03)