DEMAK, Jatengnews.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak menargetkan capaian zero stunting pada tahun 2026 melalui kebijakan penanganan yang dilakukan secara holistik dan melibatkan lintas sektor.
Upaya tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan, tetapi juga menggandeng sektor lain seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dalam penyediaan sanitasi, Dinas Sosial, serta sektor pendidikan melalui edukasi kesehatan reproduksi.
Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Demak, Muhammad Badruddin, saat menjadi narasumber dalam talkshow di RSKW 104.8 FM. Ia menegaskan bahwa penanganan stunting harus dilakukan secara menyeluruh hingga ke tingkat keluarga.
“Intervensi dilakukan langsung oleh kader sehingga benar-benar menyentuh sasaran sampai ke akar, yaitu keluarga,” tutur Badruddin, Kamis (12/2/2026).
Menurutnya, selain menurunkan angka stunting, Pemkab Demak juga menaruh perhatian besar pada upaya pencegahan sejak dini, bahkan sebelum bayi dilahirkan. Persiapan kehamilan, pencegahan anemia pada remaja putri, pemenuhan ASI eksklusif, serta keterlibatan aktif keluarga dan masyarakat menjadi fokus utama.
“Penanganan dilakukan jauh sebelum bayi lahir. Ibu harus dipersiapkan secara fisik dan mental agar melahirkan generasi yang sehat,” tegasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Demak, Ali Maimun, mengungkapkan bahwa prevalensi stunting di Demak menunjukkan tren penurunan signifikan. Angka stunting turun dari 16 persen pada 2022 menjadi 10 persen pada 2024, dan kembali menurun hingga 9,5 persen selama dua tahun berturut-turut.
“Capaian ini menjadikan Demak sebagai salah satu kabupaten dengan angka stunting terendah di Jawa Tengah, sekaligus memperoleh dana insentif dari pemerintah pusat. Dalam RPJMD telah ditetapkan target penurunan stunting hingga 7,3 persen pada 2026. Semakin kecil angkanya, tentu semakin baik,” ujar Ali Maimun.
Ia menegaskan bahwa pencegahan menjadi kunci utama dalam penanganan stunting, mengingat kondisi tersebut berawal dari gizi buruk kronis yang tidak tertangani sejak awal.
“Keberhasilan intervensi paling tinggi terjadi pada anak usia di bawah dua tahun. Yang terpenting adalah jangan sampai muncul stunting baru. Pencegahan dimulai dari remaja putri dengan menekan angka anemia, dilanjutkan pendampingan calon pengantin dan ibu hamil. Kesehatan ibu sangat menentukan kesehatan janin. Kalau ibu sehat, insyaallah janin juga sehat,” pungkasnya. (03)








