Beranda Daerah Tanah Bergerak Terjang Jangli Semarang, 15 Rumah Rusak dan Warga Mengungsi

Tanah Bergerak Terjang Jangli Semarang, 15 Rumah Rusak dan Warga Mengungsi

Pergerakan tanah menyebabkan amblesan yang merusak fondasi rumah warga. Tiang-tiang bangunan menggantung, dinding retak dan pecah, serta tanah terus turun perlahan terutama saat hujan turun.

Kondisi rumah yang terdampak bencana tanah gerak di Jangli Semarang
Kondisi rumah yang terdampak bencana tanah gerak di Jangli Semarang (Foto:ist)

SEMARANG, Jatengnews.id  – Bencana tanah bergerak melanda RT 7 RW 1, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Semarang, Rabu (11/2/2026) sore. Sebanyak 15 rumah terdampak, dua di antaranya terpaksa dibongkar karena berisiko roboh.

Pergerakan tanah menyebabkan amblesan yang merusak fondasi rumah warga. Tiang-tiang bangunan menggantung, dinding retak dan pecah, serta tanah terus turun perlahan terutama saat hujan turun.

Salah satu warga, Sri Darningsih, mengatakan rumahnya kini tak lagi aman ditempati. Setiap kali hujan dan angin kencang datang, ia bersama keluarga memilih mengungsi ke mushola terdekat.

“Kalau hujan atau angin, langsung lari ke mushola. Tidak boleh di dalam rumah, takut. Tanahnya bunyi ‘dug-dug’, geser,” ujar Sri saat ditemui, Jumat (14/2/2026).

Menurutnya, retakan kecil yang sebelumnya kerap muncul setelah hujan berubah menjadi amblesan besar setelah hujan deras mengguyur kawasan itu hampir dua pekan berturut-turut.

“Langsung anjlok. Semua pecah. Sudah enggak bisa dipakai lagi. Kalau malam selalu bunyi. Tiangnya ambles sedikit-sedikit,” katanya.

Ketua RT 7 RW 1 Jangli, Joko Sudaryono, menyebut retakan tanah kini mencapai sekitar lima meter dengan radius terdampak kurang lebih 70 meter. Ia mengungkapkan, sejak malam kejadian hingga pagi hari berikutnya, tanah bergerak hingga dua meter.

“Pergerakannya cukup cepat malam itu. Dari malam sampai pagi bisa sekitar dua meter,” ujarnya.

Selain kerusakan bangunan, pergerakan tanah juga berdampak pada jaringan listrik. Kabel tertarik dan sejumlah pohon ikut bergeser, sehingga aliran listrik di wilayah tersebut dipadamkan demi keselamatan warga.

“Pohon ikut jalan, kabel putus semua. Listrik sudah diputus, jadi gelap,” kata Sri.

Saat ini, warga dengan kerusakan rumah paling parah tinggal di tenda darurat yang didirikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Sebelumnya, mereka sempat mengungsi di mushola.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, telah meninjau lokasi terdampak. Pemerintah kota menyatakan opsi relokasi tengah dipertimbangkan, sembari menunggu pendataan warga yang bersedia maupun menolak direlokasi.

Hingga kini, warga masih diliputi rasa waswas. Bagi mereka, hujan bukan lagi sekadar musim, melainkan sinyal untuk segera menyelamatkan diri.(02)

Exit mobile version