
SEMARANG, Jatengnews.id – Pendekatan teknokratis dinilai mampu menembus sekat identitas dan menaklukkan tantangan interseksionalitas dalam kontestasi pemilu.
Hal ini menjadi sorotan dalam bedah buku Politik Teknokratis: Kemenangan Melampaui Interseksionalitas dalam Pemilu yang digelar Departemen Politik dan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Diponegoro (Undip) di Kampus Tembalang, Minggu (15/2/2026).
Buku karya mahasiswa Muhammad Fikhar A K itu merupakan pengembangan skripsi yang mengulas strategi pemenangan berbasis manajemen politik terukur. Karya ini dibimbing Dr Phil Wahid Abdulrahman dan diuji Dr Kushandajani serta Jihan Marsya A MA.
Bedah buku menghadirkan narasumber nasional, antara lain Lestari Moerdijat, Sugeng Suparwoto, Amelia Anggraini, serta Ketua Departemen Politik dan Ilmu Pemerintahan Undip, Dr Nurhidayat Sardini.
Amelia Anggraini menekankan bahwa kemenangan dalam Pemilu 2024 di Dapil VII Jawa Tengah diperoleh bukan hanya dari popularitas atau intuisi, tetapi melalui manajemen disiplin, pemetaan yang jelas, target terukur, dan mekanisme kontrol ketat.
“Tantangan interseksionalitas, seperti bukan putera daerah, bukan petahana, dan sebagai perempuan, bisa dilalui dengan pendekatan teknokratis yang dipadukan komunikasi politik berbasis kultural,” katanya.
Sugeng Suparwoto menambahkan, politik teknokratis adalah kombinasi antara science dan arts. Strategi berbasis data harus dipadukan dengan kemampuan membaca budaya dan karakter sosial masyarakat.
Sementara itu, Lestari Moerdijat menyoroti hambatan bagi kandidat perempuan yang masih dihadapkan pada stereotip dan bias gender. Ia menegaskan pentingnya pendekatan keilmuan dan penguatan kesadaran kolektif untuk mendukung perempuan di ruang politik.
Dr Nurhidayat Sardini menjelaskan, pendekatan teknokratis memberi ruang untuk mengelola kompleksitas identitas politik dan sosial, seperti gender, agama, dan status sosial, secara rasional dan terstruktur.
Dekan FISIP Undip, Dr Teguh Yuwono, menegaskan dukungan kampus terhadap karya mahasiswa yang berdampak akademik dan praktis. Sementara Dr Phil Wahid Abdulrahman menekankan bahwa politik modern kini bergerak ke arah strategi berbasis data, manajemen, dan evaluasi terukur, tanpa mengabaikan dimensi budaya.
Bedah buku ini menegaskan bahwa strategi teknokratis mampu mengatasi politik identitas dan menjadi alternatif efektif dalam kontestasi elektoral modern.(02)