26 C
Semarang
, 19 Februari 2026
spot_img

Dari Limbah Jadi Berkah: KKN UNDIP Sulap Bonggol Jagung Jadi Pupuk Kompos di Ngargotirto

Inisiatif berbasis konsep reverse logistics dorong pertanian berkelanjutan dan kurangi ketergantungan pupuk kimia di Sragen.

Sragen, JatengNews.id– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar edukasi pemanfaatan bonggol jagung menjadi pupuk kompos di Desa Ngargotirto, Kabayanan VI, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Selasa (27/01/2026).

Program ini menjadi bagian dari upaya mendorong pertanian berkelanjutan sekaligus merespons tingginya harga pupuk kimia.

Sebagian besar warga Desa Ngargotirto menggantungkan hidup pada sektor pertanian.

Berdasarkan hasil wawancara dan diskusi dengan warga, ketergantungan pada pupuk kimia dinilai membebani biaya produksi karena harganya yang terus meningkat.

Di sisi lain, limbah bonggol jagung yang melimpah setiap musim panen selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan lebih sering dibuang.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN Tim I Tahun 2026 Undip, Azzahra Afta Dzulfikar dari Program Studi Manajemen dan Administrasi Logistik, menginisiasi edukasi pengolahan bonggol jagung menjadi pupuk kompos dengan menerapkan konsep reverse logistics.

Konsep ini menekankan pengelolaan kembali limbah agar dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai guna.

Azzahra Afta Dzulfikar menjelaskan, penerapan konsep reverse logistics memungkinkan limbah yang selama ini tidak bernilai, seperti bonggol jagung, diolah dan diintegrasikan kembali ke dalam siklus produksi pertanian.

Limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos yang lebih ramah lingkungan.

“Melalui pendekatan ini, kami ingin mengubah limbah menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna bagi petani,” ujar Azzahra.

Ia berharap program ini dapat membantu warga mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sekaligus mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan pemaparan materi sekaligus demonstrasi langsung tahapan pembuatan pupuk kompos dari bonggol jagung yang dikombinasikan dengan sampah organik rumah tangga.

Warga tampak antusias mengikuti sesi praktik dan aktif berdiskusi mengenai proses pengolahan hingga penerapannya di lahan pertanian.

bonggol jagungg kkn uin ws
Pembuatan pupuk kompos dari bonggol jagung (Foto: Dok KKN)

Kegiatan ini turut didampingi tokoh lokal, Suparman, yang berpengalaman dalam pembuatan pupuk organik.

Ia menilai potensi limbah bonggol jagung sangat besar apabila dikelola dengan tepat.

Suparman menjelaskan bahwa selama ini bonggol jagung di desa tersebut hanya dibuang dan belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurutnya, apabila diolah dengan cara yang tepat, limbah tersebut dapat dijadikan pupuk kompos yang membantu memperbaiki kesuburan tanah sekaligus mengurangi penggunaan pupuk kimia.

“Bahan-bahan yang digunakan juga mudah diperoleh dari lingkungan sekitar sehingga tidak membutuhkan biaya besar,” ujarnya.

Respons masyarakat terhadap program ini terbilang positif.

Selain memahami langkah-langkah praktis pembuatan pupuk kompos secara mandiri, warga juga mulai menyadari manfaat ekonomi dan ekologis dari pemanfaatan limbah pertanian.

Ke depan, Suparman berencana melanjutkan inisiatif ini melalui agenda bulanan berupa kegiatan pengolahan limbah lingkungan menjadi pupuk kompos, pembuatan aktivator, serta produk pendukung pertanian lainnya berbasis bahan lokal.

Melalui program ini, mahasiswa KKN Undip berharap masyarakat dapat menerapkan pengelolaan limbah pertanian secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Edukasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemandirian petani, menciptakan lingkungan desa yang lebih bersih, serta memperkuat produktivitas pertanian lokal di Kabupaten Sragen.

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN