
SEMARANG, Jatengnews.id – Dalam atu tahun kepemimpinan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti bersama Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin menandai fase konsolidasi sekaligus akselerasi pembangunan di Semarang.
Adapun, fondasi diletakkan, arah diperjelas, dan sejumlah indikator kunci menunjukkan pergerakan positif—di tengah tekanan fiskal dan dinamika ekonomi nasional.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menjelaskan bahwa Pemerintah Kota mencatat kepuasan publik 83,6 persen (Litbang Kompas) serta proyeksi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2025 mencapai 85,80—kategori sangat tinggi dan tertinggi di Jawa Tengah.
“Realisasi pendapatan daerah Tahun Anggaran 2025 menyentuh 92,31 persen, mencerminkan ketahanan fiskal yang adaptif terhadap kebijakan efisiensi belanja pemerintah pusat,” katanya, Jumat (20/02/2026).
Data Pendapatan Asli Daerah (PAD) menunjukkan kontras yang menarik:
* Pajak Hiburan: 106,38 persen (melampaui target)
* Pajak Restoran: 104,31 persen (melampaui target)
* Pajak Hotel: 79,10 persen (di bawah target)
* SiLPA: Rp186,9 miliar
Ketika belanja dinas ditekan akibat Inpres Nomor 1 Tahun 2025, konsumsi masyarakat justru mengalir ke sektor hiburan dan kuliner. UMKM dan ekonomi kreatif menjadi bantalan utama ekonomi kota.
Agustina menerangkan ada ima Pilar Pembangunan di Kota Semarang
1. Semarang Bersih: Infrastruktur dan Tata Kelola
Penguatan sistem persampahan dilakukan dari hulu ke hilir. Tahun 2025, kota ini memiliki 454 kontainer dan 237 TPS, mengelola 221.299 ton sampah dengan dampak ekonomi sirkular mencapai Rp570 juta lebih. Sebanyak 1.074 bank sampah melibatkan 35.411 warga.
Penghijauan dilakukan di lahan 16,58 hektare dengan 46.510 bibit ditanam. Tiga ruang terbuka hijau dibangun: Taman RBRA Abdurrahman Saleh, Taman Garoot, dan Taman Dinar Mas Meteseh.
Komitmen “bersih” juga menyasar birokrasi. Penghargaan manajemen talenta dari BKN RI (Januari 2026) menegaskan penerapan sistem merit dalam penempatan jabatan.
2. Semarang Sehat: Ekosistem Layanan Dasar
Kota ini meraih predikat Kota Paling Berkelanjutan Ketiga Nasional (UI Green Metric 2025). Rehabilitasi 10.000 mangrove dan penguatan layanan kesehatan berdampak pada angka harapan hidup 78,72 tahun.
Cakupan Universal Health Coverage meningkat signifikan, dari 98.261 peserta (2024) menjadi 228.859 peserta (2025). Empat puskesmas dan tiga puskesmas pembantu dibangun atau direhabilitasi.
Penanganan stunting menunjukkan hasil konkret: dari 5.480 kasus menjadi 3.560 kasus. Sebanyak 2.406 balita keluar dari kategori kekurangan gizi. Skrining TB juga lebih masif, dengan tren temuan kasus menurun dibanding tahun sebelumnya.
3. Semarang Cerdas: Akses dan Kualitas Pendidikan
Rata-rata lama sekolah mencapai 11,11 tahun. Pemerintah kota menyalurkan beasiswa bagi ribuan siswa lintas jenjang dan menyelesaikan 374 ijazah tertahan dari 36 sekolah.
Infrastruktur pendidikan diperkuat: 43 ruang kelas baru SD, 24 ruang kelas baru SMP, serta ratusan ruang kelas direhabilitasi. Program sekolah swasta gratis menjangkau 129 sekolah (2025) dan diperluas menjadi 135 sekolah (2026).
Dampaknya, angka putus sekolah SD/MI tercatat 0 persen dan SMP/MTs hanya 0,01 persen. Indeks literasi mencapai 82,16 persen dan numerasi 77,74 persen.
4. Semarang Makmur: Ekonomi Inklusif
Event “Semarang 10K” yang diikuti 3.000 peserta (50 persen dari luar kota) menjadi penggerak ekonomi lokal. Pemerintah juga mendaftarkan 7.217 pekerja rentan dalam BPJS Ketenagakerjaan melalui program Pijar Semar.
Insentif sosial diperluas: peningkatan bisyarah guru keagamaan, marbot, modin, pendidik PAUD, hingga perawat jenazah. Pembebasan PBB bagi 98.847 wajib pajak dan BPHTB bagi 97.847 wajib pajak turut meringankan beban warga.
5. Semarang Tangguh: Infrastruktur dan Ketahanan Wilayah
Penanganan banjir dan rob menunjukkan progres nyata. Luas genangan berkurang 230,98 hektare; persentase wilayah terdampak turun dari 3,29 persen (2024) menjadi 2,71 persen (2025).
Pemeliharaan jalan kota sepanjang 25,8 km, 56 saluran kota dan sungai, penanganan Jembatan Srondol–Sekaran, hingga perawatan jalur pedestrian memperkuat konektivitas dan keselamatan.
“Satu tahun pertama bukan tanpa tantangan. Keterbatasan anggaran dan tekanan kebijakan pusat menjadi ujian konsistensi. Namun indikator makro, capaian fiskal, dan perbaikan layanan dasar menunjukkan arah yang jelas: tata kelola yang adaptif dan berbasis dampak,” jelasnya.
Agustina–Iswar menempatkan tahun pertama sebagai fondasi sistemik. Hasilnya mulai terlihat—bukan sekadar penghargaan, melainkan perbaikan terukur pada kualitas hidup warga. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi dan memperluas dampak di tahun-tahun mendatang. (03)