SEMARANG, Jatengnews.id – Isu kecerdasan budaya, ketahanan pendidikan di tengah krisis, hingga tantangan kecerdasan buatan (AI) mengemuka dalam Seminar Internasional yang menjadi bagian dari FIPP International Forum 2026 di Universitas Negeri Semarang (UNNES), Kamis (19/2/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Dekanat Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) itu mempertemukan mahasiswa dan akademisi dari berbagai negara untuk membahas dinamika mutakhir pendidikan dan psikologi global. Forum tetap digelar secara khidmat meski bertepatan dengan kebijakan Work From Anywhere (WFA) pada hari pertama Ramadan 1447 Hijriah.
Dekan FIPP UNNES, Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Si., menegaskan bahwa forum internasional ini menjadi bagian dari strategi kampus dalam memperkuat jejaring global dan meningkatkan daya saing lulusan.
“Kolaborasi internasional melalui pertukaran mahasiswa dan forum akademik lintas negara menjadi langkah konkret memperluas wawasan dan perspektif mahasiswa,” ujarnya.
Salah satu sorotan utama datang dari mahasiswa doktoral asal Kirgistan, Nurtilek Kadyrov. Ia membagikan pengalamannya selama lebih dari satu dekade menempuh pendidikan di Indonesia. Menurutnya, keberhasilan studi mahasiswa asing tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga kecerdasan budaya atau cultural intelligence.
“Kecerdasan budaya membantu mahasiswa asing memahami nilai, norma, dan pola komunikasi masyarakat lokal sehingga proses adaptasi berjalan lebih efektif,” katanya.
Isu ketahanan pendidikan juga diangkat mahasiswa magister asal Myanmar, Hsu Nandar Myint. Ia memaparkan bagaimana sistem pendidikan di negaranya tetap berjalan pascakrisis politik 2021 melalui pemanfaatan modul cetak dan siaran radio pendidikan.
Sementara itu, Jenyes Intan Sururoh dari program studi Bimbingan dan Konseling FIPP UNNES menyoroti peran guru BK dalam merespons kebutuhan emosional siswa di tengah keterbatasan sarana. Dalam penelitiannya, inovasi layanan konseling disebut lahir dari inisiatif profesional guru di lapangan.
Dari perspektif sosial, Shelma Rania Putri Nugroho, mahasiswa Psikologi, mengangkat isu perempuan dalam kategori NEET (Not in Education, Employment, or Training). Ia menilai norma gender masih menjadi hambatan struktural yang memengaruhi kepercayaan diri dan peluang perempuan.
Mahasiswa asal Gambia yang menempuh studi di UIN Salatiga, Mafu Ceesay, menekankan pentingnya literasi data dan penguasaan coding sebagai kompetensi dasar abad ke-21. Menurutnya, pendidikan perlu menempatkan kemampuan digital sebagai fondasi kurikulum masa depan.
Di sisi lain, Annisa Denti Papita, mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah, mengingatkan potensi dampak negatif penggunaan AI dalam proses belajar. Ia menyoroti fenomena “illusion of understanding”, yakni rasa paham semu akibat ketergantungan pada teknologi.
“AI memang memudahkan, tetapi jika tidak diimbangi kemampuan berpikir kritis, mahasiswa berisiko kehilangan kedalaman analisis,” ujarnya.
Melalui forum ini, FIPP UNNES menegaskan komitmennya mendukung agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama pada aspek pendidikan inklusif dan kesetaraan gender. Diskusi lintas negara tersebut diharapkan mampu memperkaya perspektif sekaligus memperkuat kolaborasi akademik global di tengah percepatan transformasi teknologi.
Seminar internasional ini menjadi refleksi bahwa masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh ketahanan, empati, dan kemampuan manusia beradaptasi dalam keberagaman. (03)



