31 C
Semarang
, 24 Februari 2026
spot_img

Waspada Ancaman Udan Kethek bagi Bikers Jateng

Pelajari risiko Udan Kethek saat berkendara di Jawa Tengah, dari angin samping hingga jalan licin saat hujan.

SEMARANG, Jatengnews.id – Bagi pemotor di Jawa Tengah, “Udan Kethek” bukan cerita rakyat. Hujan lokal yang turun saat matahari masih menyengat ini adalah ancaman nyata—terutama di bentang terbuka Pantura dan tikungan panjang lintas Selatan.

Cuaca yang kian tak menentu menuntut lebih dari sekadar jas hujan. Ia menuntut disiplin, teknik, dan kewaspadaan tingkat tinggi.

Jawa Tengah menghadirkan dua wajah risiko. Di Jalur Pantura, ancaman terbesar datang dari angin samping (crosswind) saat hujan deras mengguyur. Motor mudah limbung, terlebih ketika melintas di jalur terbuka tanpa pelindung. Di saat yang sama, aspal yang tercampur tumpahan solar berubah menjadi licin begitu tersentuh air pertama.

Berbeda dengan itu, Jalur Selatan (Trans-Jawa Selatan) menyimpan persoalan lain. Kontur perbukitan menghadirkan kabut yang memangkas jarak pandang. Permukaan jalan yang tidak rata meningkatkan potensi aquaplaning—ban kehilangan traksi karena melaju di atas lapisan air.

Oke Desiyanto, Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng, menegaskan persoalan utama “Udan Kethek” adalah kontras cahaya ekstrem.

“Tetes hujan membiaskan sinar matahari, memicu silau yang membuat aspal seolah menghilang. Efek flare pada kaca helm yang baret memperparah situasi,” katanya melalui siaran pers, Selasa (24/02/2026).

Solusinya tegas: gunakan helm dengan double visor atau smoke visor berkualitas. Jika memakai visor bening, pastikan benar-benar bersih dan bebas gores. Dalam kondisi silau, visibilitas adalah segalanya.

Di Pantura yang padat truk dan bus, residu oli, solar, dan debu menumpuk di permukaan jalan. Saat hujan ringan turun—termasuk “Udan Kethek”—air bercampur kotoran membentuk lapisan seperti pelumas. Titik inilah yang kerap memicu selip mendadak. Kecepatan harus dikurangi secara bertahap. Hindari pengereman keras (hard braking) karena ban sangat mudah kehilangan daya cengkeram.

Fakta yang tak bisa ditawar: jalan tak pernah kompromi pada tingkat kemahiran. “Udan Kethek” kerap menipu persepsi. Matahari yang masih bersinar memberi rasa aman palsu, membuat pengendara enggan menurunkan kecepatan.

“Menembus cuaca ekstrem di Jawa Tengah bukan soal siapa paling cepat tiba, tetapi siapa paling cermat membaca tanda alam. Udan Kethek mungkin tak terhindarkan, namun risiko kecelakaan bisa ditekan dengan persiapan dan teknik yang tepat,” tegas Oke. (03)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN