Beranda Daerah Kolaborasi Desa Kalipancur dan KKN UNDIP Rancang Unit Usaha AMDK BUMDes untuk...

Kolaborasi Desa Kalipancur dan KKN UNDIP Rancang Unit Usaha AMDK BUMDes untuk Tingkatkan PAD

Kolaborasi pemerintah desa dan mahasiswa KKN UNDIP dorong optimalisasi sumber mata air sebagai unit usaha strategis peningkat Pendapatan Asli Desa.

mahasiswa KKN Tim I Kelompok 44 UNDIP meninjau sumber mata air
Pemerintah Desa Kalipancur bersama mahasiswa KKN Tim I Kelompok 44 UNDIP saat melakukan diskusi dan peninjauan potensi sumber mata air desa yang dirancang menjadi unit usaha AMDK BUMDes di Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, Senin (19/01/2025) (Foto: Dok KKN).

Pekalongan, JatengNews.id — Desa Kalipancur, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, berkolaborasi dengan mahasiswa KKN Tim I Kelompok 44 Universitas Diponegoro (UNDIP) merancang pengelolaan sumber mata air desa berbasis bisnis guna meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD), Senin (19/01/2025).

Inisiatif tersebut diwujudkan melalui rencana pembentukan unit usaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Program ini diproyeksikan menjadi langkah strategis dalam membuka peluang pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus memperkuat kemandirian fiskal desa.

Kolaborasi ini muncul di tengah keterbatasan ruang fiskal desa serta tingginya ketergantungan pada dana transfer pemerintah.

Pemerintah Desa Kalipancur menilai perlunya optimalisasi aset lokal yang memiliki nilai ekonomi, namun selama ini belum dikelola secara produktif.

Salah satu aset potensial tersebut adalah sumber mata air desa dengan debit stabil dan kualitas air jernih.

Selama ini, mata air tersebut hampir sepenuhnya dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi harian masyarakat, tanpa pengembangan lebih lanjut sebagai sumber pendapatan desa.

Berbasis Analisis Pasar dan Proyeksi Ekonomi

Tim KKN UNDIP menyusun proposal bisnis komprehensif yang mencakup analisis pasar, desain operasional, hingga simulasi kinerja keuangan.

Inisiatif ini diposisikan sebagai instrumen peningkatan PAD jangka menengah dan panjang, bukan sekadar program sosial sementara.

Berdasarkan pembacaan konteks ekonomi Kabupaten Pekalongan, wilayah Kajen–Bojong memiliki sensitivitas harga tinggi dengan PDRB per kapita sekitar Rp27,91 juta.

Namun demikian, kebutuhan air bersih di wilayah ini masih menyisakan celah pasar yang belum sepenuhnya terlayani.

Proyeksi kebutuhan air bersih Kabupaten Pekalongan pada 2025 diperkirakan mencapai 123,6 juta liter per hari.

Sebagian permintaan, khususnya dari kantor pemerintahan desa, pelaku usaha kuliner, dan penyelenggara acara, masih bergantung pada pasokan dari luar daerah dengan biaya distribusi relatif tinggi.

Melihat kondisi tersebut, tim KKN menilai peluang bagi produsen lokal berskala regional cukup terbuka.

Keunggulan kompetitif tidak bertumpu pada skala produksi besar, melainkan efisiensi distribusi, kecepatan layanan, dan kedekatan dengan pasar institusional desa.

Potensi Pendapatan Hingga Rp4 Miliar per Tahun

Dalam simulasi bisnis yang disusun, terdapat sekitar 45.000 rumah tangga di wilayah Kajen–Bojong dengan rata-rata belanja air minum Rp75.000 per bulan.

Dengan skenario penetrasi pasar konservatif sebesar 2 persen, unit usaha AMDK berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar Rp800 juta per tahun.

Pada skenario moderat 5 persen, potensi pendapatan meningkat hingga sekitar Rp2 miliar per tahun.

Sementara itu, skenario agresif 10 persen membuka peluang pendapatan lebih dari Rp4 miliar per tahun. Bagi skala BUMDes, angka tersebut dinilai signifikan dalam mendorong kemandirian fiskal desa secara bertahap.

Selain itu, skema distribusi hub-and-spoke yang memanfaatkan Kajen sebagai pusat administrasi dan Bojong sebagai simpul volume tinggi diproyeksikan mampu menekan biaya logistik hingga 12–15 persen dibandingkan distributor nasional.

Buka Lapangan Kerja dan Perkuat Ekonomi Lokal

Dari sisi ketenagakerjaan, unit usaha AMDK diproyeksikan menyerap lebih dari 20 tenaga kerja pada tahap awal, mencakup fungsi produksi, pengemasan, distribusi, dan administrasi.

Dalam beberapa tahun ke depan, jumlah tersebut berpotensi meningkat hingga lebih dari 35 orang seiring ekspansi kapasitas dan pasar.

Efek berganda juga diperkirakan muncul pada sektor pendukung, seperti transportasi lokal dan penyedia bahan kemasan.

Kepala Desa Kalipancur, Muhroji, menyambut baik kajian yang dilakukan mahasiswa KKN.

“Potensi mata air Kalipancur sudah lama kami ketahui, tetapi belum pernah dihitung secara bisnis. Proposal ini memberi gambaran lebih jelas mengenai peluang pasar, risiko, dan manfaat ekonominya bagi desa,” ujarnya.

Tekankan Kepatuhan Regulasi dan Keberlanjutan

Berbeda dari inisiatif serupa, proposal ini menekankan aspek kepatuhan regulasi dan keberlanjutan usaha.

Strategi yang diusulkan mencakup pemenuhan sertifikasi Halal dan Standar Nasional Indonesia (SNI), serta pemanfaatan E-Katalog lokal untuk mendukung pengadaan di tingkat desa dan kecamatan.

Langkah tersebut dipandang penting untuk memperkuat posisi BUMDes di tengah persaingan industri AMDK yang semakin kompetitif pada 2026, termasuk potensi masuknya investasi berskala besar dari luar daerah.

Dengan tersusunnya proposal ini, Pemerintah Desa Kalipancur kini memiliki dasar teknis untuk mengambil keputusan lanjutan, mulai dari pengajuan pendanaan, pembangunan infrastruktur produksi, hingga penguatan tata kelola BUMDes.

Apabila direalisasikan secara konsisten, unit usaha AMDK ini berpotensi menjadi model pengelolaan aset alam desa yang produktif dan berkelanjutan.

Bagi Kalipancur, inisiatif ini bukan sekadar tentang air minum, melainkan langkah strategis memperluas basis ekonomi dan mengurangi ketergantungan fiskal dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang dimiliki sendiri.

Exit mobile version