SEMARANG, Jatengnews.id – Ramadhan selalu membawa dinamika baru di jalanan Jawa Tengah. Pola lalu lintas berubah, jam sibuk bergeser, dan intensitas kepadatan meningkat terutama menjelang berbuka.
Di saat yang sama, kondisi fisik pengendara motor juga tidak berada pada performa puncak akibat perubahan pola makan dan tidur. Kombinasi keduanya menjadi faktor krusial yang tak bisa diabaikan.
Menurut Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah, Oke Desiyanto, tubuh manusia saat berpuasa bekerja dalam mode hemat energi. “Secara fisik mungkin terasa normal, tetapi fungsi kognitif bisa menurun karena kadar gula darah lebih rendah dari biasanya,” jelasnya Jumat (27/02/2026).
Dalam konteks berkendara, penurunan tersebut berdampak langsung pada kecepatan mengambil keputusan. Respons terhadap pengereman mendadak, kendaraan yang berpindah jalur tiba-tiba, atau pejalan kaki yang menyeberang bisa melambat. Selisih sepersekian detik saja di kecepatan menengah sudah cukup memperbesar risiko kecelakaan.
Jam Kritis yang Perlu Diwaspadai
Menjelang Berbuka (Ngabuburit)
Sore hari menjadi fase paling padat sekaligus paling rawan. Konsentrasi cenderung menurun, sementara dorongan untuk segera sampai rumah meningkat. Aktivitas pedagang takjil di tepi jalan juga menambah potensi hambatan samping, mulai dari kendaraan parkir mendadak hingga penyeberang jalan.
Setelah Sahur
Pagi hari menyimpan risiko berbeda. Perubahan jam tidur membuat tubuh rentan mengalami micro-sleep. Dalam hitungan sederhana, melaju 50 km/jam selama 3 detik tanpa kesadaran penuh membuat motor bergerak lebih dari 40 meter tanpa kontrol optimal. Jarak tersebut cukup untuk menimbulkan situasi berbahaya, terutama di jalur lurus dan sepi yang kerap membuat pengendara lengah.
Kunci Aman Berkendara Saat Puasa
Agar mobilitas tetap lancar dan aman selama Ramadhan, beberapa langkah berikut patut diterapkan:
Evaluasi kondisi diri sebelum berkendara. Jika mengantuk atau sulit fokus, tunda perjalanan atau istirahat sejenak di tempat aman.
Perlebar jarak aman. Tambahan jarak memberi ruang bagi waktu reaksi yang mungkin melambat.
Jaga ritme berkendara. Hindari akselerasi dan pengereman agresif yang menguras energi serta memicu emosi.
Optimalkan sahur. Konsumsi makanan berenergi tahan lama dan cukupi kebutuhan cairan.
Gunakan perlengkapan berkendara yang nyaman dan tidak berlebihan. Sirkulasi udara yang baik membantu mencegah kelelahan akibat panas.
Ramadhan bukan alasan untuk menurunkan standar keselamatan. Justru di bulan ini, pengendara dituntut lebih sabar dan lebih sadar kondisi diri. Menahan emosi di jalan sama pentingnya dengan menahan lapar dan haus.
Pada akhirnya, tujuan utama bukan sekadar tiba tepat waktu untuk berbuka, melainkan sampai dengan selamat agar ibadah tetap khusyuk dan aktivitas esok hari bisa dijalani tanpa hambatan. (03)



