SEMARANG, Jatengnews.id – Secara bulanan, inflasi di Provinsi Jawa Tengah pada Februari 2026 tercatat sebesar 0,76% (mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,68% (mtm).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, menyampaikan bahwa tekanan inflasi pada periode tersebut terutama dipicu oleh kenaikan harga sejumlah komoditas, antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras.
“Sementara itu, inflasi tertahan oleh penurunan harga komoditas bensin, wortel, cabai hijau, bawang putih, dan kelapa,”katanya melalui siaran pers, Kamis (05/03/2026)
Secara tahunan, inflasi Jawa Tengah pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,43% (yoy). Angka tersebut berada di atas rentang sasaran inflasi 2,5±1% (yoy), namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 4,76% (yoy).
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi pada periode laporan terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil 0,58% (mtm). Komoditas yang memberikan kontribusi inflasi pada kelompok ini antara lain daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras.
“Kenaikan harga komoditas tersebut dipengaruhi oleh faktor masuknya periode tanam, kondisi cuaca ekstrem, serta meningkatnya permintaan menjelang dan selama bulan Ramadhan 2026,” ujarnya.
Selain itu, inflasi juga berasal dari Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan andil 0,14% (mtm). Kenaikan pada kelompok ini terutama disebabkan oleh meningkatnya harga emas perhiasan yang memberikan andil 0,14% (mtm), sejalan dengan tren kenaikan harga emas global pada Februari 2026. Peningkatan harga emas dipengaruhi oleh kondisi ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global yang mendorong investor beralih ke aset safe haven.
Tekanan inflasi tersebut sedikit tertahan oleh deflasi pada Kelompok Transportasi dengan andil -0,02% (mtm). Deflasi ini dipicu oleh penurunan harga bensin dengan andil -0,05% (mtm) seiring dengan penyesuaian tarif yang ditetapkan pemerintah pada awal Februari 2026.
Secara spasial, seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Tengah mencatatkan inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Surakarta sebesar 0,90% (mtm), diikuti oleh Kota Tegal (0,86%; mtm), Rembang (0,83%; mtm), Cilacap (0,80%; mtm), Wonogiri (0,79%; mtm), Purwokerto (0,78%; mtm), Wonosobo (0,76%; mtm), Kudus (0,74%; mtm), serta Kota Semarang (0,67%; mtm).
Ke depan, Bank Indonesia bersama para pemangku kepentingan yang tergabung dalam Forum Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Tengah serta TPID kabupaten/kota se-Jawa Tengah akan terus memperkuat koordinasi dan sinergi dalam pelaksanaan berbagai program pengendalian inflasi.
Upaya tersebut difokuskan pada menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi komoditas, sehingga inflasi di Jawa Tengah dapat tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1%. (03)



