27 C
Semarang
, 10 Maret 2026
spot_img

Musim Pancaroba, Ban Motor Jadi Penentu Keselamatan Berkendara

Cuaca panas di siang hari dapat membuat material karet ban memuai.

SEMARANG, Jatengnews.id – Memasuki Maret 2026, cuaca di sejumlah wilayah Jawa Tengah seperti Semarang, Solo, Pati hingga Pekalongan sedang berada di masa pancaroba yang sulit ditebak.

Pagi hari bisa terasa sangat terik, tetapi menjelang sore awan gelap kerap datang tiba-tiba disertai hujan deras. Kondisi ini sering ditemui di jalur lingkar, jalan antar kota, hingga tanjakan curam.

Perubahan cuaca yang cepat bukan hanya soal menyiapkan jas hujan. Bagi pengendara motor, hal yang jauh lebih penting adalah memastikan kondisi ban tetap optimal. Sebab, ban merupakan satu-satunya komponen kendaraan yang bersentuhan langsung dengan aspal.

Dalam dunia safety riding, ban kerap disebut sebagai “nyawa kedua” bagi pengendara. Saat pancaroba, peran ban menjadi semakin krusial karena harus menghadapi berbagai kondisi jalan yang berubah dengan cepat.

Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah, Oke Desiyanto, menjelaskan ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pengendara agar tetap aman saat berkendara di musim peralihan ini.

Banyak pengendara merasa jalanan justru lebih licin saat hujan baru mulai turun dibanding saat hujan sudah deras. Hal ini terjadi karena sisa oli, debu, dan kotoran di permukaan jalan terangkat oleh air dan membentuk lapisan tipis yang sangat licin.

Kondisi ini sering ditemui di jalur padat seperti kawasan perkotaan Solo atau jalur Pantura. Ketika rintik hujan mulai turun, pengendara disarankan langsung mengurangi kecepatan dan menjaga jarak aman.

Sebagian pengendara masih beranggapan ban yang diisi angin lebih keras akan membuat motor lebih stabil atau melaju lebih kencang. Padahal, tekanan angin yang terlalu tinggi justru bisa memperkecil bidang kontak ban dengan permukaan jalan.

Di kondisi jalan basah, ban yang terlalu keras membuat daya cengkeram berkurang sehingga motor lebih mudah tergelincir. Karena itu, penting memastikan tekanan angin ban sesuai dengan rekomendasi pabrikan.

Genangan air yang sering muncul saat hujan juga bisa memicu kondisi aquaplaning. Situasi ini terjadi ketika ban tidak lagi menyentuh aspal karena terangkat oleh lapisan air.

Jika ban sudah aus atau gundul, air tidak dapat dialirkan melalui alur kembangan ban. Akibatnya, kendaraan bisa kehilangan kendali dalam waktu singkat, terutama saat melintas di jalan yang bergelombang atau berlubang.

Cuaca panas di siang hari dapat membuat material karet ban memuai. Ketika hujan turun secara tiba-tiba dengan suhu lebih dingin, perubahan temperatur yang drastis dapat mempercepat munculnya retak-retak halus pada dinding ban.

Karena itu, pengendara perlu rutin memeriksa kondisi ban, termasuk memastikan tidak ada tanda penuaan atau kerusakan pada permukaan maupun dinding ban.

Oke Desiyanto mengingatkan bahwa menjaga kondisi ban merupakan bagian penting dari keselamatan berkendara, terutama saat cuaca tidak menentu.

“Ban yang prima memastikan kita tetap aman di perjalanan dan bisa sampai di rumah untuk bertemu keluarga. Saat pancaroba seperti sekarang, sebaiknya kurangi keinginan memacu motor terlalu kencang ketika cuaca berubah-ubah. Lebih baik sedikit terlambat karena menjaga ritme berkendara, daripada mengambil risiko kehilangan traksi di jalan,” ujarnya. (03)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN