DEMAK, Jatengnews.id – Tim gabungan akhirnya berhasil mengevakuasi kapal tongkang raksasa yang sempat terdampar selama enam hari di perairan Sayung, Kabupaten Demak, Kamis (12/3/2026) sore.
Kapal sepanjang 75 meter tersebut sebelumnya menghantam permukiman warga di Dukuh Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung hingga rusak parah.
Cuaca buruk yang disertai angin kencang dan gelombang tinggi di Pantai Utara Jawa menyeret kapal tersebut sejak Jumat malam (6/3/2026). Saat hanyut terbawa arus, badan kapal yang masif menghantam sejumlah rumah warga serta fasilitas umum di kawasan pesisir.
Kerusakan Parah dan Kepanikan Warga
Insiden ini menyebabkan sedikitnya empat rumah warga hancur. Selain menghancurkan hunian, hantaman tongkang juga merusak fasilitas umum vital, seperti:
Jalan apung akses menuju Makam Syekh Mudzakir.
Gapura desa yang roboh total.
Sejumlah warung milik warga sekitar.
Ketakutan akan pergerakan kapal saat gelombang tinggi memaksa warga mengungsi ke masjid setempat. Marfuah, salah seorang warga Dukuh Tambaksari, menceritakan mencekamnya situasi selama hampir sepekan.
“Tongkang itu merusak empat rumah, warung, gapura, hingga jalan apung,” ujar Marfuah, Jumat (13/3/2026). Meski rumahnya selamat, ia memilih tidur di masjid demi keamanan. “Saya takut kalau tiba-tiba tongkang menabrak rumah saya saat ombak besar.”
Marfuah mengaku bersyukur karena proses evakuasi berjalan lancar. Sebelumnya, warga bahkan menggelar doa bersama agar kapal besar itu segera menjauh dari permukiman mereka.
Strategi Evakuasi: Melibatkan Perahu Nelayan
Jajaran Polres Demak bersama pihak terkait mengerahkan satu unit kapal penarik (tug boat) dan bantuan sembilan perahu nelayan untuk menggeser raksasa besi tersebut.
Kasat Polairud Polres Demak, Bambang Suhartoyo, mengonfirmasi bahwa tim berhasil melepaskan tongkang dari lokasi kandas sekitar pukul 16.00 WIB.
“Satu unit tug boat menarik tongkang, sementara delapan hingga sembilan perahu nelayan membantu manuver serta menjaga keseimbangan kapal agar tetap stabil,” jelas Bambang.
Bambang menambahkan, tim evakuasi sengaja menunggu cuaca membaik sebelum memulai operasi. Angin kencang dan ombak tinggi sebelumnya membuat risiko penarikan terlalu besar. Selain itu, petugas harus memetakan jalur dengan sangat teliti.
“Kami harus memperhitungkan aspek teknis secara matang agar tongkang tidak menabrak pemecah gelombang di area makam yang bisa menyebabkan kapal kandas lagi,” tambahnya.
Kronologi Kejadian
Tongkang tanpa muatan ini awalnya berlayar dari Tegal menuju Kalimantan. Masalah muncul saat kapal hendak bersandar di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Cuaca buruk memutus tali penghubung antara tongkang dan kapal penarik, hingga akhirnya arus menyeret kapal tersebut hingga ke pesisir Desa Bedono.
Kini, tim sedang menarik tongkang tersebut menuju Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang untuk penanganan lebih lanjut. (01).



