32 C
Semarang
, 18 Maret 2026
spot_img

Penjualan Eceran Jawa Tengah Melonjak di Awal 2026

Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Januari 2026 tercatat tumbuh signifikan sebesar 16,97% secara tahunan (year-on-year/yoy), mencerminkan kuatnya daya beli masyarakat.

SEMARANG, Jatengnews.id – Kinerja penjualan eceran di Provinsi Jawa Tengah menunjukkan tren positif pada awal tahun 2026.

Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Januari 2026 tercatat tumbuh signifikan sebesar 16,97% secara tahunan (year-on-year/yoy), mencerminkan kuatnya daya beli masyarakat.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Andi Reina Sari, menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan penjualan pada sejumlah kelompok barang.

“Kenaikan tertinggi terjadi pada Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi sebesar 36,14%, diikuti Suku Cadang dan Aksesoris 25,85%, serta Makanan, Minuman, dan Tembakau 25,78%,” ujarnya Rabu (18/03/2026)

Secara bulanan (month-to-month/mtm), IPR Januari juga mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 19,21%, meningkat tajam dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 3,69%. Kinerja ini didorong oleh lonjakan penjualan pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 28,82%, Barang Budaya dan Rekreasi 13,48%, serta Peralatan Informasi dan Komunikasi 2,74%.

Memasuki Februari 2026, kinerja penjualan eceran diprakirakan tetap tumbuh. Secara tahunan, IPR diproyeksikan meningkat 10,14% (yoy), dengan kontribusi utama dari Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi (31,57%), Suku Cadang dan Aksesoris (21,39%), serta Sub Kelompok Sandang (19,37%).

Sementara itu, secara bulanan, penjualan eceran Februari diperkirakan tumbuh 11,25% (mtm). Pertumbuhan ini terutama didorong oleh peningkatan permintaan pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau (16,91%), Sub Kelompok Sandang (7,54%), serta Barang Lainnya (3,46%).

“Bank Indonesia menilai, peningkatan kinerja penjualan tersebut tidak lepas dari faktor musiman, yakni meningkatnya konsumsi masyarakat selama bulan Ramadan dan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri,” imbuhnya.

Dari sisi harga, tekanan inflasi di Kota Semarang untuk beberapa bulan ke depan diperkirakan mereda. Hal ini tercermin dari penurunan Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH). Untuk April 2026, IEH tercatat sebesar 156,8, turun dari bulan sebelumnya yang mencapai 181,58. Sementara itu, IEH Juni 2026 berada di level 167,11, juga lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 176,3.

Penurunan tekanan inflasi ini diperkirakan sejalan dengan meningkatnya pasokan barang, khususnya pada periode panen yang berlangsung pada April dan Juli 2026, sehingga mampu menjaga stabilitas harga di wilayah tersebut. (03)

Berita Terkait

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

BERITA PILIHAN