SEMARANG, Jatengnews.id — Taekwondo Indonesia (TI) Jawa Tengah terus mendorong pemerataan pembinaan atlet di tingkat kabupaten/kota. Minimnya fasilitas latihan dan dukungan anggaran menjadi kendala utama yang menyebabkan sejumlah daerah tertinggal.
Beberapa wilayah yang dinilai masih lemah dalam pembinaan di antaranya Kabupaten Pekalongan, Wonogiri, dan Purbalingga. Keterbatasan sarana seperti matras serta minimnya jumlah dojang membuat atlet dari daerah tersebut belum mampu bersaing di tingkat provinsi.
Sebagai langkah awal pemerataan, Pengprov TI Jateng menyalurkan bantuan satu set matras latihan kepada tiga daerah tersebut. Bantuan diserahkan di Dojang Taekwondo Jawa Tengah pada Senin (30/3/2026).
Kabid Organisasi Pengprov TI Jateng, Taufik Hidayat, menegaskan bahwa pemerataan pembinaan menjadi fokus utama.
“Ini stimulus awal untuk membantu kabupaten/kota yang masih minim peralatan latihan. Kami dorong supaya bisa menyusul. Harapannya ke depan semua daerah bisa punya perwakilan atlet untuk Jawa Tengah,” ujarnya.
Ia menambahkan, persoalan yang dihadapi daerah bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga kesempatan pembinaan yang belum merata.
Di sisi lain, kondisi di Wonogiri tergolong paling berat. Ketua Pengkab TI Wonogiri, Supriadi, mengungkapkan bahwa pihaknya nyaris tidak mendapatkan dukungan anggaran.
“Dari pemerintah daerah maupun KONI kabupaten, anggaran kami bisa dibilang nol. Untuk punya matras sendiri saja sangat sulit,” ungkapnya.
Ia menyebut bantuan dari Pengprov menjadi angin segar bagi pembinaan di daerahnya. “Ini benar-benar membantu, setidaknya sekarang kami punya sarana latihan yang lebih layak,” tambahnya.
Hal serupa disampaikan Ketua Pengkab TI Kabupaten Pekalongan, Dodit Widodo. Ia mengakui keterbatasan fasilitas turut memengaruhi prestasi atlet di daerahnya.
Melalui langkah ini, Pengprov TI Jateng berharap kesenjangan pembinaan antar daerah dapat diperkecil, sehingga potensi atlet taekwondo di seluruh wilayah Jawa Tengah dapat berkembang secara merata.(02)











