SEMARANG, Jatengnews.id — Kasus Campak di Jawa Tengah menunjukkan tren peningkatan signifikan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng mencatat sebanyak 1.720 kasus suspek tersebar di 35 kabupaten/kota, dengan tiga daerah yakni Cilacap, Klaten, dan Pati telah memenuhi kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB) secara epidemiologis.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jateng, Heri Purnomo, menyampaikan bahwa meski belum ada penetapan resmi KLB oleh pemerintah daerah, indikator penyebaran kasus sudah mengarah ke kondisi tersebut.
“Sebenarnya bukan KLB karena belum ditetapkan oleh bupati. Tapi secara epidemiologi, ada peningkatan kasus dan memenuhi kriteria KLB,” ujar Heri, Selasa (31/3/2026).
Hingga kini, total suspek campak mencapai 1.720 kasus. Dinkes Jateng masih melakukan pendalaman untuk merinci distribusi kasus, khususnya di wilayah dengan lonjakan tertinggi.
Sementara itu, Kepala Dinkes Jateng, Yunita Dyah Suminar, mengatakan pihaknya tengah mengintensifkan pelacakan kasus serta pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) melalui imunisasi massal.
“Terpenting ini gejala-gejalanya yang ditangani. Misalnya panas, diberi penurun panas. Bukan obat seperti penyakit virus lain seperti Covid,” jelasnya.
Menurut Yunita, meskipun capaian imunisasi di Jateng pada 2026 disebut telah mencapai 100 persen, dampak tertunda dari pandemi COVID-19 menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus saat ini. Banyak anak yang tidak mendapatkan imunisasi pada masa tersebut sehingga lebih rentan terpapar.
“Saat pandemi Covid itu banyak yang tidak terimunisasi. Dampaknya mungkin baru terasa sekarang. Campak tidak hanya menyerang anak-anak, orang dewasa juga bisa terinfeksi,” imbuhnya.
Dinkes Jateng mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan deteksi dini serta memperluas cakupan imunisasi, terutama di lokasi yang berpotensi menjadi klaster penularan seperti sekolah dan lingkungan keluarga.
“Kewaspadaan harus ditingkatkan. Penularan bisa terjadi di sekolah maupun lingkungan keluarga,” pungkasnya.(02)











