Beranda Daerah Permodalan Jadi Tantangan Koperasi Desa Merah Putih di Kota Semarang

Permodalan Jadi Tantangan Koperasi Desa Merah Putih di Kota Semarang

Kinerja ekonomi Koperasi Desa Merah Putih di Kota Semarang turut mengalami peningkatan yang tercermin dari capaian omzet.

Koperasi Desa Merah Putih di Kota Semarang. (Foto : Dokumen)
Koperasi Desa Merah Putih di Kota Semarang. (Foto : Dokumen)

SEMARANG, Jatengnews.id — Permodalan masih menjadi kendala utama dalam pengembangan Koperasi Desa Merah Putih di Kota Semarang meskipun pertumbuhan jumlah koperasi terus menunjukkan tren positif hingga awal 2026.

Berdasarkan data Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Semarang, hingga akhir Maret 2026 telah tercatat sebanyak 177 Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) berdiri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 142 koperasi telah dioperasikan, sementara 35 lainnya masih berada dalam tahap pengembangan.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Semarang, Margaritha Mita Dewi Sopa, menyampaikan bahwa kinerja ekonomi Koperasi Desa Merah Putih di Kota Semarang turut mengalami peningkatan yang tercermin dari capaian omzet.

“Omzet KKMP per Februari 2026 mencapai Rp869.022.000,” ujar Mita saat dikonfirmasi pada Senin (6/4/2026).

Disebutkan, berbagai layanan telah disediakan oleh KKMP guna mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Layanan tersebut meliputi penjualan kebutuhan pokok, LPG, BRILink, Postpay, alat tulis kantor, LakuPandai, hingga pengolahan limbah seperti minyak jelantah dan sampah, serta usaha konveksi dan layanan Samsat Budiman.

Keberagaman unit usaha tersebut dinilai telah membuat Koperasi Desa Merah Putih di Kota Semarang mampu bersaing dengan pasar konvensional, khususnya dari sisi harga yang ditawarkan kepada masyarakat.

“KKMP berkontribusi pada ekonomi di masyarakat karena harga di KKMP dapat bersaing dibanding dengan pasar,” kata Mita.

Meski demikian, sejumlah kendala masih dihadapi dalam operasional koperasi. Keterbatasan stok barang disebut masih sering terjadi, sehingga memengaruhi kelancaran layanan kepada masyarakat. Selain itu, margin keuntungan yang tipis akibat penyesuaian dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) juga dinilai menjadi hambatan. Kondisi tersebut diperberat dengan tingginya biaya operasional distribusi barang.

“Ketersediaan stok barang terbatas, harga beli dengan harga jual yang harus sesuai HET selisihnya terlalu sedikit sehingga keuntungan terlalu minim karena operasional pengambilan barang terlalu besar,” ungkapnya.

Tantangan lain juga disebut masih membayangi pengembangan koperasi, mulai dari rendahnya minat masyarakat untuk bergabung sebagai anggota, keterbatasan modal usaha, hingga minimnya fasilitas gerai yang dimiliki oleh sebagian koperasi.

“Minat masyarakat untuk menjadi anggota KKMP masih rendah, ditambah banyak yang tidak punya gerai, SDM pengurus kurang kompeten, dan kurangnya modal,” imbuh Mita.

Dalam upaya memperkuat keanggotaan, Pemerintah Kota Semarang telah mendorong aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai untuk menjadi anggota koperasi di wilayah masing-masing. Hingga 31 Maret 2026, tercatat sebanyak 3.435 pegawai atau sekitar 23,86 persen dari target telah bergabung.

Saat ini, peningkatan jumlah anggota disebut tengah difokuskan guna memperkuat struktur permodalan koperasi. Selain itu, pelatihan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pengurus juga terus diupayakan secara berkelanjutan. “Kita sedang fokus ke optimalisasi peningkatan anggota supaya modalnya makin kuat,” pungkasnya. (03)

Exit mobile version