KARANGANYAR, Jatengnews.id – Pedagang di Pasar Jungke, Karanganyar, mengeluhkan penumpukan sampah yang terjadi di area pasar, khususnya di sisi utara. Kondisi tersebut dinilai mengganggu aktivitas perdagangan hingga menyebabkan penurunan jumlah pengunjung.
Perwakilan pedagang, Wiyatno, mengatakan bahwa tumpukan sampah sudah terjadi sejak Januari 2026 dan hingga kini belum tertangani secara maksimal.
“Kami mewakili teman-teman pedagang, terutama di sisi utara yang terdampak langsung. Sampah sudah menggunung dan baunya sangat mengganggu aktivitas kami sehari-hari,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Menurutnya, dampak paling terasa adalah turunnya jumlah pembeli. Padahal, periode setelah Lebaran biasanya menjadi momen penting bagi pedagang untuk meningkatkan penjualan.
“Biasanya setelah Lebaran itu jadi puncak bagi pedagang untuk memanen hasil usaha. Tapi tahun ini terasa sekali penurunan kunjungan dan omzet karena adanya sampah tersebut,” ungkapnya.
Selain berdampak secara ekonomi, para pedagang juga mengkhawatirkan potensi gangguan kesehatan akibat kondisi lingkungan yang tidak higienis. Mereka berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, terutama dalam pengangkutan sampah dan penataan ulang lokasi pembuangan.
Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Karanganyar, Latri Listyowati, yang meninjau langsung kondisi di lapangan, menyebut penumpukan sampah sudah dalam tahap mengkhawatirkan. Bahkan, ditemukan belatung di area tersebut.
“Ini sudah sangat membahayakan. Belatungnya bahkan sudah sampai ke area sekitar. Ini harus segera ditangani,” tegasnya.
Latri menjelaskan, sebelumnya pengangkutan sampah di pasar berjalan lancar dengan frekuensi dua hingga tiga kali dalam seminggu. Namun sejak terjadi lonjakan volume sampah pada awal tahun, kondisi menjadi tidak terkendali.
“Ketika terjadi penumpukan luar biasa, akhirnya dianggap sebagai tempat pembuangan umum, bahkan seperti tempat pembuangan akhir. Pedagang dari luar juga ikut membuang sampah di sini,” katanya.
Ia mendorong dinas terkait untuk segera membersihkan seluruh sampah agar kondisi pasar kembali normal. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kerja sama antara pengelola pasar dan pedagang dalam melakukan pemilahan sampah.
Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karanganyar mengakui adanya keterbatasan dalam penanganan sampah, baik dari segi tenaga, armada, maupun anggaran.
“Kami hampir 24 jam bergulat dengan sampah. Tapi memang ada keterbatasan tenaga, armada, dan anggaran,” kata Kepala DLH Karanganyar, Sunarno.
Ia mengajak masyarakat untuk mulai mengelola sampah dari sumbernya dengan memilah antara sampah organik dan anorganik. Menurutnya, langkah tersebut dapat membantu mengurangi beban sampah secara signifikan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Karanganyar, Nugroho, menyebut pihaknya mengelola sekitar 18 pasar tradisional yang semuanya menghasilkan sampah setiap hari, namun dengan fasilitas yang terbatas.
“Armada truk kami sebagian besar sudah tua, bahkan ada yang diproduksi sejak 1997–1998. Kontainer juga banyak yang rusak dan belum ada anggaran untuk pengadaan baru,” jelasnya.
Pemerintah daerah pun diharapkan dapat segera mempercepat penambahan armada dan fasilitas pendukung agar pengelolaan sampah di pasar tradisional bisa berjalan lebih optimal.(02)



