SEMARANG, Jatengnews.id – Di Kampung Skip RT 7 RW 1, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, ketidakpastian menjadi teman sehari-hari warga.
Lebih dari dua bulan setelah tanah gerak menghantam kampung mereka pada Februari 2026, rumah-rumah retak dan tanah yang bergeser masih menjadi ancaman nyata. Relokasi? Perbaikan rumah? Semuanya masih menjadi janji yang menunggu keputusan pemerintah provinsi.
Sekitar 15 rumah terdampak parah, tapi beberapa warga tetap bertahan di rumah mereka yang rawan longsor. Di sana, mereka menjalani hari-hari dengan was-was, mengawasi setiap retakan baru di dinding, takut hujan deras atau getaran sekecil apa pun bisa memicu bencana lebih besar.
“Kami tidak bisa pindah. Rumah kami hampir roboh, tapi ini satu-satunya yang kami miliki,” ujar salah satu warga dengan suara gemetar.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengakui keterbatasan pemerintah kota.
“Relokasi sepenuhnya ada di tangan provinsi. Kami hanya bisa memberi masukan,” katanya saat meninjau korban angin puting beliung di Banyumanik, Rabu (8/4/2026).
Tambahan komplikasi muncul dari status lahan yang bukan milik warga maupun pemerintah kota, melainkan pihak ketiga. Akibatnya, bantuan rumah tidak layak huni (RTLH) belum bisa diberikan.
Hunian sementara selama dua bulan disiapkan, lengkap dengan logistik dan kebutuhan dasar. Namun bagi warga, bantuan ini hanya secuil harapan di tengah ketidakpastian. Banyak yang tetap menatap rumah mereka yang retak, waspada setiap detik. Ternak yang mereka rawat dan rutinitas harian tetap menjadi alasan mereka bertahan di tempat itu.
BPBD Kota Semarang, melalui Kepala Endro Pudyo Martanto, menegaskan bahwa penyebab tanah gerak masih dalam kajian teknis bersama laboratorium geofisika Universitas Diponegoro.
“Analisis sudah ada, ini akan menjadi dasar langkah selanjutnya,” ujarnya.
Sementara itu, muncul perbedaan pandangan mengenai penyebab tanah gerak. Sebagian pihak menyebut ambrolnya saluran air atau gorong-gorong sebagai pemicu. BPBD tetap berpegang pada analisis ilmiah laboratorium Undip.
Bagi warga Kampung Skip, analisis ilmiah tak menghapus rasa takut yang menghantui setiap malam. Rumah yang retak, tanah yang bergerak, janji relokasi yang mengambang—semua menciptakan drama kehidupan yang nyata dan menegangkan.
“Kami hanya bisa berharap. Setiap hujan, kami kembali ketakutan,” kata seorang ibu yang menatap retakan di dinding rumahnya.
Kampung Skip kini menjadi simbol ketidakpastian: tanah bergerak, rumah retak, harapan tertunda. Dan warga? Mereka menunggu… menunggu keputusan yang bisa mengubah hidup mereka selamanya. (03)



