
SEMARANG, Jatengnews.id – Upaya penanganan kekeringan di Kota Semarang dipastikan terus diperkuat, seiring dengan meningkatnya potensi musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino 2026.
Adapun, kawasan Rowosari disebut masih menjadi titik prioritas utama dalam pemetaan kawasan rawan bencana (KRB), menyusul keterbatasan akses air bersih yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto menyampaikan, kondisi geografis yang sulit dijangkau disebut telah menyebabkan sejumlah program penyediaan air bersih belum dapat berjalan optimal. Bahkan, upaya pengeboran sumur dalam yang telah dilakukan dilaporkan tidak menghasilkan air layak konsumsi, melainkan gas.
“Dilakukan pengeboran artetis sumur dalam yang keluar bukan air bersih tapi gas,” ujarnya, Rabu 8 April 2026.
Sebagai langkah darurat, distribusi air bersih disebut telah disiagakan dan dapat dikirimkan kapan saja berdasarkan permintaan masyarakat di wilayah terdampak.
Ditegaskan bahwa pelayanan distribusi air bersih dilakukan secara responsif, dengan koordinasi langsung bersama perangkat wilayah setempat. Permintaan warga disebut dapat langsung dipenuhi melalui jalur komunikasi cepat dengan petugas lapangan.
“Nah, akhirnya kami mensiagakan juga fokus untuk distribusi air bersih. Kita layani kapanpun lurah masyarakat setempat ini sudah, biasanya langsung ke kontak kami,” jelasnya.
Selain Rowosari, wilayah lain seperti Wonosari di Kecamatan Ngaliyan juga disebut sempat mengalami kondisi serupa. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa upaya pipanisasi oleh PDAM tengah dilakukan untuk menjangkau wilayah Polasari secara menyeluruh.
Sementara itu, wilayah Sadeng di Gunungpati juga dilaporkan mengalami kekeringan, meski dalam skala lebih kecil. Adapun kawasan Jabungan disebut mulai menunjukkan perbaikan setelah program penyediaan air bersih mulai masuk.
Rowosari Jadi Prioritas Sejak El Nino 2023
Dalam catatan distribusi sebelumnya, wilayah Rowosari disebut telah menjadi lokasi dengan intensitas pengiriman air bersih tertinggi, terutama saat puncak El Nino 2023.
“Dari data tangki kita yang paling banyak distribusi di Rowosari,” ungkap Endro.
Hal tersebut menjadikan Rowosari kembali ditetapkan sebagai prioritas intervensi pada musim kemarau tahun ini. Status tersebut dipertahankan karena kebutuhan air bersih yang masih tinggi dan keterbatasan sumber air alternatif.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, sebanyak 1 juta liter air bersih telah disiapkan untuk memenuhi kebutuhan warga di berbagai wilayah terdampak. Distribusi disebut akan dilakukan secara fleksibel, menyesuaikan dengan laporan kebutuhan dari masyarakat.
“BPBD Kota Semarang sudah menyiapkan 1 juta liter air bersih. Kapanpun permintaan warga di manapun nanti akan kita kirim sesuai permintaan warga,” tegasnya.
Fenomena cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini disebut menjadi indikator awal peralihan musim. Kondisi panas terik yang disertai hujan deras dan angin kencang pada waktu tertentu dinilai sebagai bagian dari transisi menuju musim kemarau.
Disebutkan bahwa awal Mei diperkirakan menjadi titik masuk musim kemarau secara lebih konsisten. Hingga akhir April, potensi hujan masih akan terjadi meski disertai suhu udara yang tinggi.
“Ini sampai dengan April cuaca kemungkinan masih ada hujan. Dan nanti awal bulan Mei mulai benar-benar memasuki musim kemarau yang harus diwaspadai,” jelasnya.
Secara ilmiah, peningkatan suhu di Kota Semarang disebut dipengaruhi oleh posisi matahari yang mendekati garis khatulistiwa, serta berkurangnya lapisan awan yang menutupi radiasi panas.
Kondisi tersebut menyebabkan suhu terasa lebih panas dari biasanya, sekaligus menjadi penanda awal datangnya musim kemarau panjang.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengingatkan bahwa dampak perubahan cuaca ekstrem harus diantisipasi secara serius oleh masyarakat, termasuk potensi kekeringan dan bencana turunan lainnya.
“Kalau tidak berhati-hati itu kita juga akan bisa menimbulkan bencana. Kehati-hatian untuk kekeringan juga kita akan antisipasi bersama BPBD dan PDAM,” ujarnya.
Masyarakat juga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama akibat kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan di tengah kondisi kering dan berangin.
“Kebiasaan teman-teman yang merokok dibuang begitu saja, ini anginnya nanti akan menceng. Jadi harus jaga,” tegasnya.
Diperkirakan bahwa puncak gelombang panas akan berlangsung hingga September, sehingga masyarakat diminta untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap dampak cuaca ekstrem.
Semarang yang memiliki kombinasi dataran rendah, perbukitan, sungai, dan wilayah pesisir disebut menjadi faktor yang memperbesar potensi bencana jika tidak diantisipasi dengan baik.
“Selain keindahan alam yang kita dapatkan, kita juga harus waspada,” pungkasnya. (03)