
SEMARANG, Jatengnews.id – Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Tengah, Hidayat Prabowo, mengungkapkan bahwa jumlah Single Investor Identification (SID) di wilayah Jawa Tengah menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan, yakni mencapai 105,29 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Adapun, pernyataan tersebut disampaikan di sela-sela kegiatan “Road to Pekan Reksadana” yang berlangsung di kantornya pada Kamis (9/4/2026).
Hidayat menjelaskan bahwa dari total SID yang tercatat, investor reksadana masih menjadi kontributor terbesar. Porsinya mencapai sekitar 63,90 persen atau setara dengan kurang lebih 2,16 juta investor. Angka tersebut juga mengalami pertumbuhan sebesar 38,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap instrumen investasi yang relatif mudah diakses ini.
Tidak hanya dari sisi jumlah investor, kinerja penjualan reksadana di Jawa Tengah juga mencatatkan peningkatan yang cukup mencolok. Berdasarkan data per Januari 2026, nilai penjualan reksadana tumbuh hingga 269 persen. Menurut Hidayat, lonjakan ini mencerminkan semakin meningkatnya tingkat kepercayaan masyarakat, sekaligus menunjukkan bertambahnya partisipasi publik dalam memanfaatkan instrumen investasi di pasar modal.
Ia menambahkan bahwa reksadana menjadi salah satu pilihan investasi yang cocok bagi berbagai kalangan, khususnya investor pemula, karena kemudahan akses dan pengelolaannya yang dilakukan oleh manajer investasi profesional.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya memandang investasi sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang yang dilakukan secara bertahap, terukur, dan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.
Lebih lanjut, Hidayat menyampaikan bahwa kegiatan Road to Pekan Reksadana yang mengusung tema “Investasi Setenang Itu, Reksa Dana Aja” diharapkan dapat menjadi sarana edukasi yang efektif bagi masyarakat.
Melalui pendekatan yang lebih sederhana dan komunikatif, masyarakat diharapkan dapat memahami konsep investasi dengan lebih baik tanpa merasa terbebani oleh istilah-istilah yang rumit.
Dengan adanya kegiatan ini, OJK berharap tingkat literasi dan inklusi keuangan di Jawa Tengah terus meningkat.
Selain itu, partisipasi masyarakat dalam pasar modal diharapkan dapat tumbuh secara sehat, transparan, dan berkelanjutan. Pada akhirnya, hal tersebut akan berkontribusi dalam memperkuat fondasi sektor jasa keuangan nasional sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. (03)