
BANDA ACEH, Jatengnews.id – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa pembangunan daerah tak bisa berjalan secara parsial.
Di hadapan para kepala daerah se-Sumatera bagian utara, ia menyoroti pentingnya kolaborasi lintas wilayah sebagai kunci utama kemajuan bersama.
Dalam forum yang digelar di Banda Aceh—yang dikenal sebagai Serambi Mekkah—Ahmad Luthfi membagikan pengalaman kepemimpinannya dalam seminar nasional bertema Best Practice Kepemimpinan Daerah Acara ini merupakan bagian dari peringatan Hari Jadi ke-821 Kota Banda Aceh sekaligus Raker Komwil I Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia.
Bertempat di Gedung AAC Prof Dr Dayan Dawood, kegiatan tersebut dihadiri para wali kota dari berbagai provinsi, termasuk Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, hingga Sumatera Barat.
Dalam pemaparannya, Ahmad Luthfi mengedepankan konsep collaborative government. Ia menekankan bahwa seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah bergerak sebagai satu “super team” tanpa sekat kepentingan.
“Tidak boleh ada sekat. Semua daerah harus tumbuh bersama,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan penerapan konsep aglomerasi wilayah, salah satunya di kawasan Soloraya yang melibatkan tujuh daerah. Melalui ajang Soloraya Great Sale 2025, kawasan ini berhasil mencatat transaksi hingga Rp10,7 triliun dalam waktu satu bulan.
Selain itu, Ahmad Luthfi menyoroti peran kepala daerah sebagai “manajer marketing” yang harus mampu mempromosikan potensi wilayah kepada investor. Strategi ini disebut turut mendorong realisasi investasi Jawa Tengah yang mencapai sekitar Rp88,5 triliun pada 2025.
Upaya promosi tersebut dilakukan secara aktif, termasuk dalam kunjungan luar daerah dan kerja sama internasional, dengan melibatkan pemangku kepentingan seperti Kadin dan Hipmi.
Di sektor tata ruang, ia menekankan keseimbangan antara pengembangan kawasan industri dan perlindungan lahan sawah dilindungi (LSD) demi menjaga ketahanan pangan.
Kolaborasi juga diperluas ke sektor pendidikan, dengan 111 perguruan tinggi yang telah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mendukung inovasi berbasis riset.
Sementara itu, di bidang sosial, berbagai program terus dijalankan, mulai dari layanan kesehatan melalui Spesialis Keliling (Speling) yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis, hingga pengentasan kemiskinan melalui perbaikan RTLH, penanganan stunting, pendidikan gratis, dan bantuan usaha.
Untuk menekan angka pengangguran, sinergi antara pendidikan vokasi—seperti SMK, BLK, dan politeknik—dengan dunia industri juga terus diperkuat.
“Banyak hal yang bisa kita sinergikan bersama, dari kesehatan hingga pengembangan potensi daerah. Tujuannya satu, agar semua wilayah bisa maju bersama,” pungkasnya. (03)