
SEMARANG, Jatengnews.id – Kolaborasi antara UIN Walisongo dan Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP) menghadirkan ruang refleksi kritis melalui Seminar Nasional dan peluncuran buku bertema “Mencandera Masa Depan Kehidupan Beragama di Era Transformasi Digital”.
Kegiatan yang digelar Sabtu (25/4/2026) di Teater Lantai 4 Gedung Kyai Saleh Darat ini menjadi titik temu para akademisi lintas kampus dari berbagai penjuru Indonesia.
Acara dibuka langsung oleh Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., dan dihadiri peserta dari sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Jakarta, hingga UIN dan universitas lainnya di berbagai daerah. Kehadiran lintas institusi ini mencerminkan besarnya perhatian terhadap dinamika keberagamaan di tengah arus digitalisasi.
Ketua Umum ADP, Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, M.A., Ph.D., dalam sambutannya menegaskan posisi strategis UIN Walisongo dalam sejarah intelektual Islam Indonesia. Ia menyebut kampus ini sebagai salah satu pusat penting lahirnya gagasan-gagasan akademik berskala nasional hingga internasional.
Sementara itu, Prof. Musahadi menyoroti istilah “mencandera” sebagai upaya sadar untuk mengendalikan arah perubahan di era digital. Menurutnya, tantangan utama bukan sekadar teknologi, melainkan perubahan cara manusia memahami ruang, waktu, dan otoritas pengetahuan.
Ia juga mengangkat fenomena “fikih prasmanan” di media sosial, di mana beragam wacana keagamaan hadir tanpa filter yang memadai. Kondisi ini dinilai berpotensi membingungkan generasi muda yang tidak memiliki dasar keilmuan agama yang kuat.
“Di tengah banjir informasi digital, penting bagi akademisi untuk menghadirkan narasi Islam yang moderat, damai, dan relevan,” tegasnya.
Selain diskusi, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan peluncuran dua buku, yakni Islam dan Transformasi Sosial serta Islam, Cinta Kesetaraan, dan Ekoteologi. Dalam sesi bedah buku, Prof. Dr. Akhmad Taufiq mengulas dinamika transformasi Islam di Jawa melalui perspektif kritis, termasuk refleksi dari naskah klasik Dharmogandul.
Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara ekspresi lahiriah dan kedalaman batin dalam beragama, tanpa menegasikan nilai-nilai lokal yang telah hidup di masyarakat.
Seminar ini diharapkan menjadi momentum strategis bagi para dosen dan akademisi untuk terus mengawal wacana keagamaan yang inklusif dan adaptif, sekaligus mampu menjawab tantangan besar yang dibawa oleh era transformasi digital. (03)