Beranda Daerah Wali Kota Semarang: Festival Ogoh-Ogoh Jadi Bukti Nyata Identitas Toleransi Kota

Wali Kota Semarang: Festival Ogoh-Ogoh Jadi Bukti Nyata Identitas Toleransi Kota

Pemerintah Kota Semarang memusatkan kegiatan ini di sepanjang kawasan Balai Kota hingga Simpang Lima

Festival Ogoh-ogoh Semarang
Puluhan kelompok lintas agama memeriahkan Festival Ogoh-Ogoh di Kota Semarang, Minggu (26/4/2026) sore. (Foto: JN)

SEMARANG, Jatengnews.id – Sekitar 1.500 peserta dari 32 kelompok lintas agama memeriahkan Festival Ogoh-Ogoh di Kota Semarang pada Minggu (26/4/2026) sore.

Perhelatan budaya ini tidak hanya menyuguhkan kemegahan visual, tetapi juga memperkuat pesan toleransi dan kerukunan antarumat beragama di ibu kota Jawa Tengah tersebut.

Pemerintah Kota Semarang memusatkan kegiatan ini di sepanjang kawasan Balai Kota hingga Simpang Lima. Penonton dapat menyaksikan tiga ogoh-ogoh raksasa asal Semarang, Kendal, dan Jepara. Selain itu, pertunjukan liong, barongsai, serta beragam kesenian tradisional dari berbagai latar belakang budaya dan agama turut menyemarakkan suasana.

Sebelum arak-arakan bergerak, para tokoh dan perwakilan komunitas agama memimpin doa bersama lintas agama. Ritual ini menjadi simbol kuat persatuan sekaligus mencerminkan nilai toleransi yang terus dirawat oleh masyarakat Kota Semarang.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menjelaskan bahwa pihaknya merancang konsep festival tahun ini secara berbeda. Panitia meminta peserta tampil langsung di depan panggung utama agar masyarakat dapat menikmati atraksi seni secara lebih maksimal.

“Tahun ini konsepnya berbeda, peserta tampil langsung di depan panggung. Berbagai sanggar seni juga ikut serta dan menyajikan atraksi yang sangat menarik perhatian,” ujar Agustina.

Agustina menegaskan bahwa festival ini merupakan milik seluruh elemen masyarakat, bukan hanya umat tertentu. Pemerintah Kota sengaja membuka acara ini untuk umum guna memperkenalkan kekayaan budaya Semarang.

“Semua kalangan bisa menikmati festival ini, bukan hanya umat Hindu dan Buddha, tetapi seluruh masyarakat,” tambahnya.

Keterlibatan berbagai organisasi seperti Muslimat NU, Banser, komunitas Kristen, Katolik, penghayat kepercayaan, hingga Konghucu menjadi bukti nyata terjaganya toleransi di Semarang. Menurut Agustina, partisipasi lintas agama ini memperkuat identitas Semarang sebagai kota yang rukun.

Selain memperkokoh kebersamaan, festival ini juga mendongkrak sektor pariwisata. Hal ini terlihat dari tingginya tingkat hunian hotel selama rangkaian acara berlangsung. (01).

Exit mobile version