SEMARANG, Jatengnews.id – Bagi warga Perumahan Dinar Indah, suara alarm bukan lagi sekadar pengingat waktu. Pada Kamis (30/4/2026) sore, lengkingan suara itu adalah lonceng peringatan akan datangnya “tamu” yang tak pernah mereka undang luapan Sungai Babon.
Dian (30) tahun baru saja memejamkan mata untuk beristirahat sejenak ketika telinganya menangkap suara raungan alarm sekitar pukul 15.45 WIB. Ia tersentak. Di luar, langit mendung bukan lagi pertanda hujan biasa, melainkan sinyal bahwa ia harus kembali berpacu dengan waktu.
“Awalnya tidur, tiba-tiba alarm bunyi. Air naik cepat sekali, kami semua langsung mengungsi,” kenang Dian getir saat ditemui jatengnews.id setelah air mulai surut.
Meski sudah delapan tahun menetap di RT 06 RW 26 Kelurahan Meteseh, rasa terbiasa tidak lantas membunuh rasa takutnya. Ada reaksi tubuh yang tidak bisa ia bohongi setiap kali melihat air cokelat merangkak masuk ke teras rumah.
“Walaupun sudah biasa dengan banjir, tapi ya mules dan gemeter pastinya,” ucapnya jujur.
Sore itu, prioritas Dian hanya dua yakni, nyawa dan harta yang tersisa. Dengan langkah terburu, ia mengantarkan kedua buah hatinya yang baru berusia 9 dan 4 tahun ke Masjid Ar-Rahman.
Di sana, mereka bergabung dengan pengungsi lain, mencari perlindungan di balik tembok masjid yang lebih tinggi. Setelah memastikan anak-anaknya aman di tangan sang tante, Dian kembali ke rumah untuk menyelamatkan barang-barang berharga sebisanya.
Hanya dalam hitungan satu jam, tepat pukul 17.00 WIB, Dinar Indah berubah menjadi waduk dadakan. Di rumah Dian, air mencapai ketinggian 2 meter. Di jalanan, kondisinya lebih parah ketinggian air mencapai 3 meter, menenggelamkan harapan warga akan sore yang tenang.
Tahun 2026 ini seolah menjadi tahun yang melelahkan bagi mereka. Baru memasuki bulan keempat, warga sudah dipaksa “berenang” sebanyak tiga kali. Kejadian Kamis sore ini adalah yang ketiga setelah banjir serupa di bulan Februari dan Maret.
“Bulan Maret lalu, saya bahkan sempat terjebak di dalam rumah. Tidak ada jalan keluar selain naik ke loteng,” cerita Dian, mengingat momen mencekam saat ia hanya bisa menatap air dari langit-langit rumahnya.
Ketua RT setempat, Fajar, mencatat ada 102 jiwa dari 27 keluarga yang kini harus kembali berjibaku dengan lumpur. Meski air sudah surut sejak pukul 18.00 WIB, sisa trauma tidak lantas hilang bersama aliran air.
Warga Dinar Indah kini berada di titik nadir. Mereka sadar, rumah yang mereka bangun dengan keringat itu berdiri di lokasi yang “tidak layak” hanya sepelemparan batu dari bibir sungai. Namun, pindah bukan perkara mudah. Janji relokasi yang berembus sejak bencana besar tahun 2023 hingga kini masih menjadi misteri.
“Kalau harapan, kami sudah bingung. Percuma, selama ini tidak ada tanggapan pasti,” keluh Fajar.
Di tengah kegelapan pasca-banjir, warga hanya bisa bertanya-tanya: sampai kapan alarm sungai harus menjadi lagu pengantar tidur mereka? Dan apa yang bisa dilakukan pemerintah selain melempar janji relokasi yang tak kunjung menemu arah?
Malam itu di Dinar Indah, lumpur mungkin mulai dibersihkan, namun rasa cemas tetap mengendap di hati setiap warga. (01).
