
Demak, JatengNews.id — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang menyoroti keunikan tradisi Sedekah Bumi Tawur Nasi yang digelar masyarakat Desa Jleper, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, pada Kamis (1/5/2026).
Tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut menjadi daya tarik masyarakat sekaligus disoroti oleh mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang karena sarat nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur masyarakat agraris.
Tradisi tawur nasi merupakan bagian utama dari rangkaian Sedekah Bumi yang rutin dilaksanakan warga Desa Jleper setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah serta doa keselamatan bagi desa.
Kegiatan ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Desa Jleper yang berada di wilayah barat Kabupaten Demak dikenal sebagai desa yang masih menjaga kuat tradisi dan nilai budaya leluhur.
Dalam pelaksanaan Sedekah Bumi, masyarakat mengadakan berbagai kegiatan seperti selametan bersama, pembagian makanan kepada warga, pagelaran wayang kulit, hingga ritual lempar nasi atau tawur nasi yang menjadi ciri khas desa tersebut.
Menurut warga setempat, tradisi tawur nasi dipercaya sebagai simbol tolak bala dan harapan agar panen di masa mendatang tetap melimpah.
Tradisi ini juga diyakini berkaitan dengan penghormatan kepada tokoh pelindung desa yang dikenal sebagai dayang desa.
“Pernah mas, pas ora tawuran wayah panen ki gagal kabeh, terus penyakit nang desa. Lha alasane mergo eman-eman nasi ditawur tawurno, tapi yo langsung ono hama karo penyakit kuwi mas,” ujar Suliso, warga asli Desa Jleper.
Kepercayaan masyarakat terhadap tradisi tersebut membuat warga tetap berupaya melaksanakannya meskipun sempat terkendala saat pandemi Covid-19.
Warga bahkan sepakat agar tradisi tetap dijalankan karena khawatir akan terjadi musibah apabila ritual tawur nasi ditiadakan.
Tawur nasi tidak dimaknai sebagai pertikaian, melainkan simbol kebersamaan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, warga saling melempar nasi dengan suasana penuh kegembiraan dan antusiasme.
Banyak masyarakat dari desa lain juga datang untuk menyaksikan tradisi unik tersebut.
“Pas setiap acara sedekah bumi ngeniki pasti rame mbak, warga soko berbagai desa podho moro nggo delok acara tawuran, karena acara iki unik lan mung ono ning Desa Jleper,” ungkap Ida Fitria.
Persiapan acara dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat jauh sebelum hari pelaksanaan. Warga bersama-sama menyiapkan nasi, perlengkapan acara, hingga lokasi kegiatan sebagai bentuk partisipasi dalam menjaga tradisi budaya desa.
Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang menilai tradisi tawur nasi merupakan warisan budaya lokal yang penting untuk terus dilestarikan di tengah perkembangan zaman.
Selain menjadi identitas budaya Desa Jleper, tradisi tersebut juga mencerminkan kuatnya solidaritas sosial masyarakat pedesaan.