
SEMARANG, Jatengnews.id — UIN Walisongo Semarang menutup rangkaian Sekolah Manajemen Badan Layanan Umum (BLU) dengan penekanan pada penguatan tata kelola keuangan yang adaptif, produktif, dan berorientasi pada kualitas layanan publik, Selasa (12/5/2026).
Pada sesi penutup yang menghadirkan narasumber dari Direktorat Pembinaan Pengelolaan Keuangan (PPK) BLU Kementerian Keuangan RI, peserta diajak memahami bahwa fleksibilitas pengelolaan BLU bukan sekadar soal kebebasan anggaran, tetapi juga tentang tanggung jawab menghadirkan layanan yang lebih efektif dan akuntabel.
Dua pemateri, Destin Praditya dan Anisah Alfada, hadir secara daring untuk membahas strategi penguatan manajemen BLU agar mampu menopang kemandirian perguruan tinggi tanpa meninggalkan prinsip transparansi dan kepatuhan regulasi.
Dalam pemaparannya, Destin Praditya menjelaskan pentingnya pengelolaan kas yang aktif sehingga dana institusi tidak berhenti sebagai idle cash. Menurutnya, pimpinan BLU memiliki kewenangan strategis untuk memastikan likuiditas tetap aman sekaligus produktif.
“Pemimpin BLU menetapkan batas saldo buffer kas untuk mengurangi idle cash. Dana yang belum digunakan perlu dioptimalkan melalui investasi jangka pendek maupun panjang, seperti deposito jangka pendek atau deposito on hold,” jelasnya.
Ia juga menerangkan bahwa sistem rekening BLU dibagi menjadi rekening operasional, dana kelolaan, dan pengelolaan kas agar seluruh arus keuangan dapat dipantau secara transparan dan sesuai fungsi masing-masing.
Sementara itu, Anisah Alfada menekankan bahwa paradigma pengelolaan BLU perlu bergeser dari orientasi penyerapan anggaran menuju capaian kinerja layanan.
Ia mencontohkan, keberhasilan pengadaan teknologi informasi tidak diukur dari besarnya nilai belanja, melainkan dari dampaknya terhadap kemudahan akses layanan bagi pengguna.
“BLU memiliki fleksibilitas dalam menyusun dan merevisi Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) selama tetap dilaporkan kepada Kementerian Keuangan. Seluruh proses itu harus bermuara pada laporan keuangan yang akuntabel dan diaudit secara internal maupun eksternal,” ujarnya.
### Bahas Kesiapan PTN-BH hingga Pengembangan Bisnis
Diskusi berlangsung dinamis saat peserta mengangkat berbagai isu strategis, mulai dari peran negara dalam pembiayaan pendidikan hingga kesiapan UIN Walisongo menuju status PTN-BH.
Dalam sesi tersebut dijelaskan bahwa salah satu indikator penting kesiapan PTN-BH adalah nilai maturity rating BLU yang harus berada di atas angka 4.
Selain itu, muncul pula gagasan penguatan pendanaan riset melalui optimalisasi PNBP serta kolaborasi dengan LPDP dan mitra internasional. Para peserta juga membahas peluang pengembangan unit bisnis kampus, seperti layanan air minum, biro konseling, hingga klinik berbasis BLU.
Tim PPK-BLU menegaskan bahwa setiap pengembangan usaha harus disertai studi kelayakan, penghitungan unit cost yang tepat, dan dasar hukum berupa SK Tarif agar tetap sehat secara bisnis maupun regulasi.
Melalui empat sesi intensif Sekolah Manajemen BLU, UIN Walisongo menegaskan komitmennya untuk membangun tata kelola yang lebih inovatif, adaptif, dan berintegritas.
Ke depan, kampus akan terus memperkuat digitalisasi layanan keuangan berbasis cashless serta mengembangkan unit bisnis strategis guna menopang kemandirian finansial dan peningkatan mutu layanan akademik maupun publik. (03)