SEMARANG, Jatengnews.id — Jajanan tradisional berbahan dasar ketan kembali digemari kalangan anak muda di Kota Semarang. Lewat inovasi topping modern dan promosi masif di media sosial, Ketan Susu Tansurri di Pasar Johar kini menjadi salah satu kuliner yang ramai diburu pengunjung.
Usaha milik Hamdani atau yang akrab disapa Dani tersebut belakangan viral di TikTok dan Instagram. Banyak pengunjung datang setelah melihat unggahan konten para pembeli yang mencoba beragam varian ketan dengan topping kekinian.
“Anak muda justru banyak sekali yang datang. Mereka suka ketan mangga dan ketan susu keju. Mereka juga sering mengunggah di TikTok dan Instagram, jadi ikut membantu viral,” kata Dani saat ditemui awak media beberapa waktu lalu.
Berbeda dengan ketan tradisional pada umumnya, Dani mencoba memadukan cita rasa klasik dengan selera masa kini. Selain menyediakan varian tradisional seperti ketan kelapa, kinco, dan bubuk, ia juga menghadirkan topping modern, seperti cokelat, oreo, keju, mangga, hingga durian.
“Konsepnya tetap ketan tradisional, tetapi topping-nya disesuaikan dengan selera sekarang. Jadi, bisa dinikmati semua kalangan,” ujar pria berusia 56 tahun itu.
Dani menjelaskan, usaha tersebut berawal dari hobi sang istri yang gemar memasak. Dari dapur rumah, racikan ketan itu terus dikembangkan hingga akhirnya menjadi usaha kuliner yang dikenal luas seperti sekarang.
“Awalnya dari hobi istri saya memasak. Lalu saya coba kembangkan, mencari resep tambahan, bahkan sempat berdiskusi dengan teman yang pernah menjalankan bisnis serupa,” tuturnya.
Sebelum membuka lapak di Pasar Johar, Dani lebih dahulu berjualan di kawasan Jalan Ahmad Yani, Semarang, sekitar dua tahun lalu. Namun, ia melihat peluang yang lebih besar setelah memutuskan pindah ke Pasar Johar pada April 2026.
“Awalnya berjualan di Ahmad Yani. Setelah melihat Johar mulai ramai lagi, akhirnya saya pindah ke sini,” katanya.
Popularitas di media sosial turut mendongkrak penjualan. Dalam sehari, Dani mengaku mampu menghabiskan sekitar enam kilogram ketan. Sementara pada akhir pekan, jumlahnya meningkat hingga 10 kilogram atau sekitar 150 porsi. “Banyak juga yang membeli untuk dibungkus,” ujarnya.
Meski permintaan terus meningkat, Dani tetap menjaga kualitas dan kesegaran produk. Ia memilih membuat ketan dalam jumlah terbatas agar cita rasanya tetap terjaga.
“Harus habis di hari yang sama karena kalau sudah tidak segar, rasanya berbeda,” tuturnya.
Sebelum serius menekuni usaha kuliner, Dani diketahui pernah bekerja di bidang pemasaran. Kini, usaha Ketan Susu Tansurri menjadi salah satu langkahnya dalam mempersiapkan masa depan keluarga.
Ke depan, Dani berencana mengembangkan konsep serupa ke pasar-pasar lain di Kota Semarang, termasuk Pasar Peterongan yang dinilainya memiliki nilai nostalgia tersendiri.
“Konsepnya dari pasar ke pasar. Saya ingin ikut menghidupkan pasar-pasar lain yang punya cerita,” katanya.
Dengan harga mulai Rp10 ribu hingga Rp23 ribu, Ketan Susu Tansurri menjadi contoh bagaimana jajanan tradisional tetap relevan di tengah tren kuliner modern, terutama ketika dipadukan dengan kreativitas dan kekuatan media sosial.
Penulis : M Kamal
Editor : Jaka Nuswantara
