Beranda Olahraga Diduga Demi Bisnis, Manajemen SSB Kecam Turnamen KONI Cup Semarang

Diduga Demi Bisnis, Manajemen SSB Kecam Turnamen KONI Cup Semarang

Pihak manajemen SSB secara terbuka menuding panitia penyelenggara bertindak tidak profesional

turnamen “Road to Kejurnas KONI Cup”
Para peserta dipaska adu pinalti di malam hari dengan lampu yang minim pencahayaan dalam gelaran “Road to Kejurnas KONI Cup” di Lapangan Banteng Riders, Semarang., Minggu (24/5/2026). (Foto: dok/peserta)

SEMARANG, Jatengnews.id – Jagat maya dihebohkan dengan beredarnya video seorang anak berseragam sepak bola yang menangis histeris usai bertanding dalam ajang “Road to Kejurnas KONI Cup” di Lapangan Banteng Riders, Semarang.

Peristiwa traumatis dalam turnamen sepak bola usia dini yang digelar Sabtu-Minggu (23-24/5/2026) ini langsung memantik reaksi keras dari manajemen Sekolah Sepak Bola (SSB) dan para orang tua peserta.

Pihak manajemen SSB secara terbuka menuding panitia penyelenggara bertindak tidak profesional, abai terhadap keselamatan anak-anak, dan terkesan hanya mengejar keuntungan komersial (bisnis) ketimbang esensi pembinaan olahraga usia dini.

Kritik tajam salah satunya datang dari Yulis Iswahyudi (Yudi), Owner sekaligus Manajer G’Soccer Semarang. Yudi menilai, panitia sama sekali tidak memiliki manajemen kompetisi yang matang. Pada hari pertama turnamen untuk kategori Usia 12 (KU-12), jadwal molor hingga laga semifinal dan final terpaksa dipaksakan bergulir usai Magrib.

“Final itu sampai jam 10 malam. Anak-anak sudah tidak layak bertanding karena kelelahan fisik dan mental,” tegas Yudi kepada Jatengnews.id, Senin (25/5/2026).

Kondisi jauh lebih parah terjadi pada hari kedua yang mempertandingkan kategori Usia 10 (KU-10). Berdasarkan regulasi awal, turnamen seharusnya rampung pukul 16.50 WIB. Namun, panitia memaksakan 24 tim bertanding hanya di atas dua lapangan.

“Rasio lapangan dan jumlah tim sangat tidak seimbang. Menurut saya, minimal harus menggunakan tiga lapangan agar selesai tepat waktu,” papar Yudi.

Dipaksa Adu Penalti dalam Gelap

Kecerobohan manajemen panitia kian terlihat saat hari mulai gelap. Meski visual lapangan sudah tidak memadai, panitia bergeming dan mengabaikan desakan perwakilan tim untuk menghentikan laga.

Puncaknya terjadi saat babak adu penalti yang hanya mengandalkan satu lampu sorot. Kondisi tersebut membuat arah pandang pemain silau, sementara area gawang justru gelap gulita. Akibatnya, banyak anak gagal mengeksekusi penalti, termasuk dua pemain G’Soccer yang tendangannya melenceng karena tidak bisa melihat gawang.

“Saya sempat minta hentikan laga demi keselamatan anak-anak, usul juara bersama atau cari venue lain besoknya. Tapi panitia menolak. Video anak-anak menangis yang viral itu karena mereka tertekan dipaksa penalti malam itu juga,” tutur Yudi berang.

Melihat rusaknya konsep pembinaan ini, Yudi mengaku telah melaporkan kejadian tersebut ke KONI Pusat dan mengklaim laporan itu direspons serius.

“Saya lapor ke KONI Pusat, katanya operator turnamen ini mau di-off (dicabut) lisensinya karena tidak sesuai aturan. Saya juga berencana bersurat resmi kepada Ketua Umum KONI Kota Semarang, Arnaz Agung Andrarasmara,” tegasnya.

Yudi menambahkan, rekam jejak buruk operator ini sebenarnya sudah diendus oleh komunitas sepak bola lokal. “Makanya, SSB asli Semarang banyak yang boikot dan tidak mau ikut. Kebanyakan peserta kemarin justru dari luar kota yang belum tahu track record panitia. Jangan sampai pembinaan rusak hanya karena operator mementingkan cuan.”

Biaya Rp900 Ribu

Senada dengan manajemen SSB, Danang (45), salah satu orang tua peserta KU-12 asal Semarang, mengaku sangat terpukul melihat kondisi mental anaknya yang ambruk setelah dipaksa bertanding dari jam 07.00 pagi hingga malam hari. Pada babak perempat final saja, anaknya baru selesai bertanding pukul 19.00 WIB.

“Anak saya sudah sering ikut turnamen, tapi ini yang paling kacau. Ke depannya, jika KONI membuat pertandingan, tolong perhatikan panitia pelaksananya (panpel). Cari yang kredibel, jangan sembarangan,” kata Danang.

Ia juga menyoroti biaya pendaftaran yang dipatok sebesar Rp900 ribu per tim, namun fasilitas dan manajemen waktu yang diberikan panitia sangat zonk. “Biaya segitu tapi praktiknya sangat tidak profesional. Ini jadinya seperti bisnis saja, bukan pembinaan,” kritik Danang.

Hingga berita ini diturunkan, Jatengnews.id masih berupaya menghubungi pihak panitia penyelenggara untuk mendapatkan klarifikasi resmi terkait karut-marut pelaksanaan turnamen tersebut. (01).

Penulis: Muhammad Kamal
Editor: Shodiqin

Exit mobile version